Penyebab Amerika dan Iran Gagal Sepakat Setelah Perundingan 21 Jam
Perundingan selama 21 jam antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu (12/4/2026).
TRIBUNPALU.COM - Perundingan selama 21 jam antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu (12/4/2026).
Terdapat beberapa poin menjadi penyebab utama gagalnya diplomasi kedua negara tersebut.
Poin itu diantaranya mengenai kedaulatan Lebanon, kontrol Selat Hormuz, hingga ambisi nuklir Teheran.
Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa negosiasi di Islamabad menemui jalan buntu setelah Washington menyodorkan apa yang ia sebut sebagai "tawaran terakhir dan terbaik" (final and best offer).
Baca juga: Kabar Gembira! Kemensos Mulai Salurkan Bansos PKH & BPNT Tahap 2, Ini Cara Ceknya
"Kami sudah berupaya maksimal, namun sayangnya, kami tidak mampu menghasilkan kemajuan apa pun," ujar Vance kepada awak media setelah maraton perundingan selama 21 jam.
Lebanon Jadi "Tumbal" Perundingan?
Sumber diplomatik Pakistan mengungkapkan kepada The New Arab bahwa salah satu pemicu utama kegagalan ini adalah sikap keras delegasi AS terkait konflik di Lebanon.
AS secara tegas menolak memasukkan isu Lebanon ke dalam paket kesepakatan dengan Iran.
Pejabat senior AS, termasuk Steve Witkoff dan Jared Kushner, dilaporkan bersikeras memisahkan isu Lebanon dari negosiasi nuklir.
Strategi ini dibaca sebagai upaya Washington untuk memberikan keleluasaan penuh kepada Israel dalam menangani Lebanon, baik melalui jalur militer maupun politik, tanpa campur tangan kesepakatan internasional.
Kondisi ini menjadi pil pahit bagi Teheran. Mengingat kedekatan ideologis dan dukungan mereka terhadap Hizbullah, Iran mustahil melepaskan Lebanon begitu saja dari meja perundingan regional.
Baca juga: 12 Perusahaan Buka Loker di Job Fair Sulteng 2026, Cek Daftar Lengkapnya di Sini
Sengketa Jalur Minyak Dunia
Selain isu Lebanon, status Selat Hormuz kembali memanas. Jalur air yang menjadi urat nadi pengiriman seperlima pasokan minyak dunia tersebut menjadi titik sengketa.
Washington mendesak pembukaan jalur tersebut segera tanpa memberikan peran signifikan bagi Iran dalam pengelolaannya, sebuah tuntutan yang langsung ditolak mentah-mentah oleh pihak Teheran.
Di sisi lain, JD Vance menegaskan bahwa inti masalah tetap berada pada komitmen nuklir.
"Kebenaran sederhananya adalah kami butuh komitmen teguh bahwa mereka tidak akan mengejar senjata nuklir, tidak hanya untuk dua tahun ke depan, tapi untuk jangka panjang," tegas Vance.
Baca juga: Pecah Kongsi dengan Rismon Sianipar, Dokter Tifa Tulis Pesan Haru: Kehilangan Adik Itu Dalam
Diplomasi Menit Terakhir
| Iran Sebut Tuntutan AS Tak Masuk Akal Jadi Alasan Gagalnya Perundingan Damai |
|
|---|
| Pembicaraan AS-Iran di Pakistan Gagal, Trump Perintahkan Blokade Selat Hormuz, Apa Dampaknya? |
|
|---|
| Muncul Perdana Pasca Gencatan Senjata, Mojtaba Khamenei Klaim Kemenangan Atas AS-Israel |
|
|---|
| AS dan Iran Bertemu di Pakistan, Lebanon Jadi Kunci: Akankah Ada Kesepakatan Gencatan Senjata? |
|
|---|
| Proses Hukum Benjamin Netanyahu Berlanjut, Terancam Hukuman Berat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/menlu-iran048.jpg)