Kamis, 7 Mei 2026

Hari Raya idulfitri 1447 H: Kapan Pemerintah dan Muhammadiyah Tentukan Hari Raya?

Sidang ini biasanya dilaksanakan sehari sebelum Lebaran, dengan menghadirkan data hilal (bulan baru) dari seluruh wilayah Indonesia.

Tayang:
Editor: Fadhila Amalia
TRIBUNNEWS / DANY PERMANA
SIDANG ISBAT - Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 H, perhatian masyarakat kini tertuju pada penetapan tanggal Lebaran oleh pemerintah dan organisasi keagamaan, khususnya Muhammadiyah. 
Ringkasan Berita:
  • Pemerintah melalui Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 H pada Kamis, 19 Maret 2026, dengan memadukan metode hisab dan rukyat di Auditorium Rasjidi, Jakarta.
  • Berdasarkan perhitungan hilal, posisi bulan belum memenuhi kriteria visibilitas MABIMS, sehingga penetapan Idul Fitri antara pemerintah.
  • BRIN memperkirakan Idul Fitri versi pemerintah jatuh 21 Maret 2026, sementara Muhammadiyah telah menetapkan awal Syawal.

TRIBUNPALU.COM - Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 H, perhatian masyarakat kini tertuju pada penetapan tanggal Lebaran oleh pemerintah dan organisasi keagamaan, khususnya Muhammadiyah.

Pemerintah melalui Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat untuk menetapkan 1 Syawal 1447 H secara resmi yang akan digelar Kamis 19 Maret 2026.

Sidang ini biasanya dilaksanakan sehari sebelum Lebaran, dengan menghadirkan data hilal (bulan baru) dari seluruh wilayah Indonesia.

Baca juga: Wardatina Mawa Akui Proses Cerai dengan Insanul Kuras Energi, Harapkan Masalah Segera Selesai

Diketahui Muhammadiyah memulai puasa Rabu 18 Februari 2026, sementara Pemerintah memulai Ramadan 2026, Kamis 19 Februari.   

Menyoroti kemungkinan perbedaan penetapan Idul Fitri 1447 H Pemerintah dan Muhammadiyah, Direktur Urusan Agama Islam Kemenag RI Arsad buka suara.

Menurut Arsad, untuk saat ini, posisi hilal pada akhir Ramadhan secara perhitungan hisab masih belum memenuhi kriteria visibilitas hilal yang ditetapkan oleh negara anggota MABIMS (Malaysia, Brunei, Indonesia, dan Singapura).

"Jadi kalau berdasarkan hitungan hisab, untuk ketinggian itu 0 sampai 3 derajat, tertinggi itu ada di Aceh ya.

Kemudian untuk elongasi 4 sampai 6 derajat. Di ketinggian mungkin memenuhi tapi dari sudut elongasi itu masih kurang," ujar Arsad dalam konferensi pers isu terkini di Kantor Kemenag, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2026).

Dalam standar MABIMS, kata Arsad, ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Baca juga: Bacaan Doa Bagi Penerima Zakat Fitrah Lengkap dengan Artinya

Meskipun dari sisi ketinggian hilal ada kemungkinan memenuhi syarat, tetapi dari aspek elongasi masih belum mencapai batas minimal yang ditetapkan dalam kriteria MABIMS.

Maka dari itu, kata dia, 1 Syawal 1447 Hijriah atau Idul Fitri 2026 antara ketetapan Pemerintah dengan Muhammadiyah berpeluang kembali berbeda seperti penentuan awal Ramadhan.

Walaupun demikian, Arsad meminta masyarakat tetap memantau hasil keputusan sidang isbat yang bakal digelar pada 19 Maret 2026.

"Jadi kalau berdasarkan kriteria visibilitas hilal MABIMS, emang apa ya, masih tidak mungkin untuk bisa dilihat, tapi keputusan akhir tetap nanti kita menunggu hasil sidang Isbat yang akan dilaksanakan di tanggal 19 Maret," ucapnya seperti dikutip TribunKaltim.co dari kompas.com.

Pelaksanaan Sidang Isbat

Dalam menentukan awal bulan Hijriah, pemerintah menggunakan metode kombinasi hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal).

Sidang akan berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, mulai pukul 16.00 WIB.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Abu Rokhmad mengatakan, sidang isbat kembali digelar di auditorium tersebut setelah beberapa ruangan sebelumnya menjalani renovasi.

Baca juga: Ketua TMP Sulteng Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

Lokasi itu dipilih karena dinilai memadai untuk menampung tamu undangan serta lebih mudah dari sisi pengaturan lalu lintas dan parkir.

Apalagi, sebagian masyarakat dan pegawai biasanya sudah memasuki masa mudik menjelang akhir Ramadhan.

Abu menyampaikan, persiapan sidang telah dilakukan sesuai prosedur, baik dari sisi substansi maupun dukungan teknis.

“Pelaksanaan sidang didasarkan pada data hisab dan hasil rukyat yang diverifikasi, serta melalui mekanisme yang terbuka kepada publik,” ujar Abu dikutip dari situs resmi Kemenag RI, Jumat (6/3/2026).

Ia menambahkan, sidang isbat akan melibatkan banyak pihak, mulai dari pakar astronomi hingga perwakilan organisasi masyarakat Islam.

Beberapa lembaga yang terlibat di antaranya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), planetarium, observatorium, serta instansi terkait lainnya.

“Karena melibatkan representasi yang luas, keputusan sidang isbat memiliki legitimasi keagamaan yang kuat,” tegasnya seperti dikutip TribunKaltim.co dari kompas.com.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag Arsad Hidayat mengatakan, pihaknya juga mematangkan persiapan teknis, termasuk koordinasi pemantauan hilal di berbagai daerah di Indonesia.

“Dari sisi teknis, kami telah menyiapkan dukungan sarana dan prasarana sidang, sistem pelaporan rukyat, serta koordinasi dengan titik-titik pemantauan hilal di seluruh Indonesia.

Baca juga: DPRD Palu Pansuskan Revisi Perda Pajak dan Retribusi, Batas Penghasilan Pajak Naik Rp5 Juta

Harapannya, proses sidang dapat berjalan tertib, akurat, dan informatif bagi masyarakat,” jelasnya.

Arsad mengimbau masyarakat menunggu hasil sidang isbat untuk mengetahui penetapan resmi Hari Raya Idul Fitri.

Rangkaian sidang nantinya diawali dengan seminar posisi hilal.

Setelah itu dilanjutkan dengan verifikasi laporan rukyatul hilal dari berbagai wilayah.

Selanjutnya pemerintah menggelar sidang isbat tertutup sebelum akhirnya Menteri Agama mengumumkan secara resmi penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah.

Prediksi BRIN

Sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 berpotensi jatuh pada tanggal yang berbeda. 

Berdasarkan perhitungan astronomi, Idul Fitri 1447 H versi pemerintah diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026.

Hal ini merujuk pada posisi hilal saat maghrib pada 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara yang belum memenuhi kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Menurut kriteria tersebut, hilal dinyatakan terlihat jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat.

Sementara, PP Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah melalui Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/2025.

Maklumat itu menerangkan, ijtimak jelang Syawal 1447 H terjadi pada hari Kamis, 30 Ramadhan 1447 bertepatan dengan 19 Maret 2026 M, pukul 01.23.28 UTC.

Pada saat Matahari terbenam di hari ijtimak terjadi, sebelum pukul 24.00 UTC ada wilayah di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi bulan > 5 derajat dan elongasi bulan > 8 derajat.(*)

Artikel ini telah tayang di TribunKaltim.co

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved