Selasa, 14 April 2026

Doa Penutup Ramadan 2026: Mohon ke Allah WST Agar Puasa Ramadan Diterima

Doa penutup Ramadan yang dibaca di hari terakhir ramadan, berisi permohonan kepada Allah SWY agar menerima ibadah puasa

Editor: Imam Saputro
aboutislam.net
Ilustrasi berdoa -Doa penutup Ramadan yang dibaca di hari terakhir ramadan, berisi permohonan kepada Allah SWY agar menerima ibadah puasa yang sudah dilakukan dan dipertemukan lagi dengan ramadan tahun depan. 

Adapun bacaan dzikir tambahan dalam takbiran Idul Fitri merupakan dzikir takbir Rasulullah SAW di bukit Shafa yang diriwayatkan Imam Muslim.

Baca juga: Cara Membuat Ketupat Lebaran Idul Fitri 1447H Agar Lembut, Tidak Bantet, dan Tidak Mudah Basi

Waktu Mengumadangkan Takbiran Idul Fitri 1447 H

Berdasarkan kitab Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin, 16/269-272) takbiran dilakukan di malam Hari Raya.

Takbiran Idul Fitri dimulai sejak matahari terbenam pada malam Ied, apabila bulan (Syawal) sudah diketahui sebelum magrib.

Takbir diakhiri dengan pelaksanaan shalat Ied. 

Yakni ketika orang-orang mulai shalat Ied, maka selesailah waktu takbir Idul Fitri.

Takbir merupakan salah satu syiar agung dalam menyambut hari kemenangan Idul Fitri. 

Amalan ini dianjurkan untuk dikumandangkan secara berjamaah di berbagai tempat, seperti masjid, pasar, hingga jalanan. 

Imam Syafi’i rahimahullah dalam kitab Al-Umm mengatakan, "Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman di bulan Ramadan, ‘‘Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu." (SQ. Al-baqarah: 185)

Maka saya mendengarkan orang yang paling saya ridai dari kalangan ahli qur’an mengatakan, "Mencukupkan bilangannya, maksudnya bilangan puasa bulan Ramadan. Dan mengagungkan Allah ketika telah sempurna atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu. Sempurnanya adalah dengan terbenamnya matahari di hari terakhir di bulan Ramadan."

Kemudian Syafi’i rahimahullah mengatakan, "Orang yang di tinggal (tengah jalan) dan orang yang safar ketika mereka melihat hilal bulan Syawwal. Saya senang orang-orang bertakbir baik secara kelompok maupun sendiri-sendiri. Di masjid, pasar maupun di jalan-jalan. Sementara orang yang bermukim, (bertakbir) pada setiap kondisi, dan dimana saja mereka berada. Agar kalimat takbir menggema. Takbir hendaknya terus dikumandangkan  hingga berangkat ke tempat shalat, hingga imam keluar untuk shalat, saat itu takbir dihentikan."

Diriwayatkan dari Said bin Musayyab, Urwah bin Zubair, Abu Salamah, Abu Bakar bin Abdurrahkan radhiallahu’anhum biasanya mereka bertakbir malam Idul Fitri di Masjid dengan mengeraskan suara takbir. 

Dan dari Urwah bin Zubair dan Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa keduanya biasanya mengeraskan takbir ketika berangkat ke tempat shalat.

Dari Nafi’ bin Jubair biasanya beliau mengeraskan takbir ketika berangkat ke tempat shalat pada hari Id.

Terdapat riwayat dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma, "biasanya beliau berangkat ke tempat shalat pada hari raya Idul Fitri ketika matahari terbit. Beliau terus bertakbir hingga tiba di tempat shalat Id. Di tempat shalat, beliau tetap bertakbir hingga imam duduk. Ketika itu beliau meninggalkan takbir."

(TribunPalu/Tribunnews)

 

Sumber: Tribun Palu
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved