Kamis, 16 April 2026

Central Yamaha Palu

Mengenal Lampurio, Praktisi Seni Tuangkan Peradaban di Atas Kendaraan

Mengalami transformasi dari objek arkeologis menjadi subjek aktif, mampu bernegosiasi dengan waktu dan berinteraksi dengan konteks kekinian.

Penulis: Supriyanto | Editor: Fadhila Amalia
Supriyanto/TribunPalu/Supriyanto
ARTISTIK - Seorang praktisi artistik, Lampurio berangkat dari persinggungan antara ingatan, lanskap, dan dinamika kehidupan kontemporer. 

Ringkasan Berita:
  • Lampurio adalah praktisi artistik asal Palu yang mengembangkan karya mural dan painting selama lebih dari satu dekade, dengan fokus pada isu lingkungan, sosial.
  • Ia menciptakan karakter “Palindopopart” yang terinspirasi dari patung megalitikum Palindo di Sulawesi Tengah, sebagai simbol yang menjembatani peradaban masa lalu.
  • Melalui kolaborasi dengan Yamaha Fazzio, Lampurio menjadikan kendaraan sebagai “kanvas berjalan”, menghadirkan seni ke ruang publik agar lebih dekat.

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Supriyanto Ucok

TRIBUNPALU.COM, PALU - Mengenal Lampurio, seorang praktisi artistik yang berangkat dari persinggungan antara ingatan, lanskap, dan dinamika kehidupan kontemporer.

Berbasis di Kota Palu, Sulawesi Tengah, selama lebih dari satu dekade ia mengembangkan pendekatan visual melalui mural dan painting yang berakar pada isu lingkungan, sosial dan budaya.

Sebuah upaya untuk membaca sekaligus merespons realitas yang dekat dengan keseharian masyarakat.

Baca juga: Fazzio Kanvas, Terobosan Yamaha Hadirkan Motor Lukis Pertama di Indonesia

Salah satu elemen kunci dalam praktik Lampurio adalah menghadirkan "Palindopopart", sebuah karakter yang berfungsi sebagai medium naratif sekaligus simbolik.

Karakter ini terinspirasi dari tradisi megalitikum yang tersebar di lembah Napu, Behoa, dan Bada.

3 wilayah lembah yang menyimpan jejak peradaban tua dengan dimensi sakral dan misterius yang kuat

Nama "Palindopopart" merujuk pada "Palindo, salah satu patung megalit terbesar di Lembah Bada

Dalam tangan Lampurio, figur ini tidak diposisikan sebagai artefak statis, melainkan sebagai entitas yang dihidupkan kembali melalui pendekatan visual kontemporer.

Mengalami transformasi dari objek arkeologis menjadi subjek aktif, mampu bernegosiasi dengan waktu dan berinteraksi dengan konteks kekinian.

Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana Lampurio memandang sejarah bukan sebagai sesuatu yang selesai, tetapi sebagai ruang dialog yang terus berlangsung.

Baca juga: Program Sejuta Rumah Masuk Desa Binangga Sigi, Infrastruktur dan UMKM Jadi Sasaran

"Palindopopart" menjadi jembatan antara peradaban masa lalu dan peradaban masa kini, menghadirkan kemungkinan baru dalam membaca ulang warisan budaya melalui bahasa visual yang lebih dekat dengan publik,

Kolaborasi Lampurio bersama Yamaha Sulawesi Tengah melalui praktik live painting pada body motor Yamaha Fazzio memperluas medan kerja artistiknya.

Dalam konteks ini, kendaraan tidak lagi dipahami semata sebagai objek fungsional, tetapi sebagai medium ekspresi yang bergerak.

Intervensi visual pada permukaan motor menghadirkan lapisan makna baru, mengubahnya menjadi kanvas berjalan yang membawa narasi artistik ke ruang publik yang lebih luas.

Sumber: Tribun Palu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved