Minggu, 26 April 2026

Palu Hari Ini

Prof Husnah Dikukuhkan Jadi Guru Besar Untad, Soroti Konsep Keuangan dan Keberlanjutan Global

Prof Dr Husnah disahkan menjadi guru besar bersama 8 orang akademisi lainnya didominasi dari Fakultas Pertanian.

Penulis: Supriyanto | Editor: Fadhila Amalia
Supriyanto/TribunPalu/Supriyanto
GURU BESAR UNTAD - Prof Dr Husnah, akademisi dari fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untad resmi menyandang guru besar dengan gelar depan Profesor (Prof). 

Ringkasan Berita:
  • Prof Dr Husnah resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako dalam rapat senat terbuka di Palu, Rabu (15/4/2026).
  • Ia menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Financial Trigger Menuju Sustainability Global di Era Geopolitik” yang membahas krisis global, energi.
  • Prof Dr Husnah menekankan peran kebijakan keuangan, green investment, dan CSR sebagai pemicu utama terciptanya keberlanjutan organisasi di tengah ketidakpastian global.

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Supriyanto Ucok

TRIBUNPALU.COM, PALU - Prof Dr Husnah, akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tadulako resmi menyandang guru besar dengan gelar depan Profesor (Prof).

Gelar itu dinobatkan oleh ketua Senat dalam rapat senat terbuka di Aula Fakultas Kedokteran Untad Jl Soekarno Hatta, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Rabu (15/4/2026) sekitar pukul 11.00 Wita.

Prof Dr Husnah disahkan menjadi guru besar bersama 8 orang akademisi lainnya didominasi dari Fakultas Pertanian.

Baca juga: Guru SD Kuswanto di Sigi Raih Prestasi Nasional, Kini Jadi Pengawas Sekolah

Sebelum disahkan, seluruh guru besar menyampaikan orasi ilmiahnya dihadapan rektor, ketua senat, dan beberapa guru besar lainnya yang hadir dalam rapat senat terbuka itu.

Selain orasi ilmiah, seluruh guru besar juga turut menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh keluarga dan tenaga pendidik.

Sontak rapat itu membuat suasana menjadi haru.

Prof Dr Husnah, sebagai orang keenam menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul "Financial Trigger Menuju Sustainability Global di Era Geopolitik."

Dalam orasi ilmiah tertulis, ia mengatakan bahwa dunia saat ini sedang memasuki fase yang sering disebut sebagai polycrisis, situasi di mana berbagai krisis terjadi secara simultan dan saling memperkuat.

Krisis energi, konflik geopolitik, perubahan iklim, dan ketidakstabilan ekonomi global telah menciptakan tekanan sistemik terhadap negara dan organisasi.

Baca juga: Deklarasi Sekolah Ramah Anak di Sigi, Dorong Pendidikan Inklusif dan Berkualitas

Menurutnya, fenomena ini mengingatkan kita pada peristiwa historis seperti Krisis Minyak 1973, yang menunjukkan bagaimana energi dapat mengguncang stabilitas ekonomi dunia.

"Dalam perspektif manajemen keuangan modern dikenal dengan Volatilitas energi, berpengaruh pada volatilitas pasar; Ketegangan geopolitik, berdampak pada risiko sistemik; serta Krisis global, yang menimbulkan tekanan likuiditas. Dengan demikian, kita tidak lagi hidup dalam era stabilitas, tetapi dalam era ketidakpastian permanen," katanya.

Menurutnya bahwa ketergantungan terhadap energi impor bukan sekadar isu ekonomi, tetapi merupakan liabilitas finansial jangka panjang.

Untuk dampaknya sendiri meliputi:

  • Defisit neraca perdagangan.
  • Tekanan terhadap APBN.
  • Fluktuasi nilai tukar dan Beban subsidi energi.

Sebagai seorang ekonom, ia melihat dari sisi kerangka Manajemen Keuangan, kondisi ini dapat dikategorikan sebagai "financial distress dalam skala makro".

Sumber: Tribun Palu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved