Selasa, 14 April 2026

Warga Sidoan Barat Pikul Jenazah

Warga Dusun Sija Parimo Minta Gubernur Sulteng Perbaiki Jalan Usai Warga Pikul Jenazah 4 Kilometer

Namun sebelum tiba di kampung halaman, Papa Andris mengembuskan napas terakhir di tengah perjalanan menuju rumah.

Penulis: Abdul Humul Faaiz | Editor: Fadhila Amalia
Handover
PERMINTAAN PERBAIKAN JALAN - Warga Dusun Sija, Desa Sidoan Barat, Kecamatan Sidoan, Kabupaten Parigi Moutong, menyampaikan permintaan bantuan langsung kepada Gubernur Sulawesi Tengah melalui sebuah video. 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Abdul Humul Faaiz

TRIBUNPALU.COM, PARIMO - Warga Dusun Sija, Desa Sidoan Barat, Kecamatan Sidoan, Kabupaten Parigi Moutong, menyampaikan permintaan bantuan langsung kepada Gubernur Sulawesi Tengah melalui sebuah video.

Seruan itu muncul setelah jenazah Alexander Timboko atau Papa Andris terpaksa dipikul sejauh empat kilometer karena tidak ada akses jalan yang dapat dilalui kendaraan roda empat.

Baca juga: BREAKINGNEWS: Pemkab Morowali Luncurkan Bansos Pancaroba untuk Nelayan Terdampak Cuaca Ekstrem

Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (24/9/2025) ketika keluarga membawa Papa Andris pulang dari rumah sakit setelah menjalani perawatan akibat gagal ginjal.

Namun sebelum tiba di kampung halaman, Papa Andris mengembuskan napas terakhir di tengah perjalanan menuju rumah.

“Yang sakit, yang melahirkan, bahkan yang meninggal semua harus dipikul. Kami mohon perhatian pemerintah,” ujar warga dalam video tersebut.

Baca juga: Pasien Gagal Ginjal Meninggal dalam Perjalanan Pulang, Jenazah Dipikul 4 Km Menuju Dusun Sija

Mereka menyebut kondisi jalan menuju Dusun Sija sudah lama rusak parah dan tidak pernah mendapat perhatian dari pemerintah.

“Pak Gubernur Anwar Hafid, tolong lihat jalan desa kami. Kami ingin hidup layak seperti warga lain,” ucap warga.

Anggota DPRD Parigi Moutong dari Fraksi PDIP, Fathia, turut membantu proses pemulangan jenazah Papa Andris ke Dusun Sija.

“Pagi ini kami membantu Papa Andris untuk dipulangkan ke kampung halamannya,” kata Fathia, Kamis (26/9/2025).

Menurut Fathia, bantuan seperti ini sering dilakukan sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat yang tinggal di wilayah sulit dijangkau.

Baca juga: UT Palu Gelar Wisuda Periode II, Prof Ucu Rahayu: Pendidikan Tidak Mengenal Batas

“Pelayanan seperti ini kami lakukan guna memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, keluarga sebenarnya hanya ingin membawa Papa Andris pulang untuk dirawat di rumah.

“Iya, beliau menderita gagal ginjal. Maunya keluarga memang ingin membawa pulang,” ucap Fathia.

Namun takdir berkata lain. Papa Andris meninggal dunia di tengah perjalanan sebelum tiba di rumah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved