Parigi Moutong Hari Ini
24 Persen Keluarga di Parimo Belum Miliki Jamban Layak, Berisiko Tinggi Stunting
Data itu bersumber dari Sistem Informasi Keluarga (SIGA) milik BKKBN, yang digunakan untuk memantau kondisi keluarga di seluruh Indonesia.
Penulis: Abdul Humul Faaiz | Editor: Fadhila Amalia
Laporan Wartawan TribunPalu.com, Abdul Humul Faaiz
TRIBUNPALU.COM, PARIMO – Sebanyak 24 persen keluarga di Kabupaten Parigi Moutong tercatat belum memiliki jamban layak menurut hasil Pendataan Keluarga Tahun 2024 (PK24).
Data tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Parigi Moutong, Kartikowati.
“Dari total keluarga yang terdata, 24,02 persen masih menggunakan fasilitas sanitasi tidak layak dan berisiko terhadap kesehatan,” ujar Kartikowati, Senin (13/10/2025).
Baca juga: Istri Ahok Hamil Lagi, Ini Momen Puput Pamer Perut Buncit di Sesi Foto Keluarga Serba Putih
Ia menjelaskan, data itu bersumber dari Sistem Informasi Keluarga (SIGA) milik BKKBN, yang digunakan untuk memantau kondisi keluarga di seluruh Indonesia.
Menurut Kartikowati, persoalan sanitasi dan perilaku buang air besar sembarangan masih menjadi tantangan di beberapa desa dan wilayah pesisir Parigi Moutong.
“Kondisi jamban yang tidak memenuhi standar berpotensi mencemari lingkungan dan sumber air, sehingga berdampak langsung pada kesehatan anak,” katanya.
Selain itu, 7,8 persen keluarga juga belum memiliki sumber air minum utama yang layak dan masih bergantung pada air permukaan atau sumur terbuka.
Ia menilai, kombinasi antara air tidak layak dan sanitasi buruk menjadi faktor kuat yang memperbesar risiko stunting pada anak-anak di Parigi Moutong.
Baca juga: Jadwal Kapal Lambelu Terbaru: Palu - Larantuka Berlayar Minggu Akhir Pekan Ini
“Stunting tidak hanya soal gizi, tapi juga terkait kebersihan lingkungan dan perilaku hidup sehat dalam keluarga,” tegas Kartikowati.
Berdasarkan Pendataan Keluarga Tahun 2024, Kabupaten Parigi Moutong memiliki 26.456 keluarga berisiko stunting atau sekitar 32,5 persen dari total penduduk.
Kartikowati menyebut, sebagian besar keluarga berisiko tinggal di wilayah pedesaan yang sulit mengakses air bersih dan sanitasi yang memadai.
“Masih banyak rumah tangga menggunakan jamban darurat atau buang air besar di kebun, sungai, atau pantai,” ungkapnya.
Ia menilai, kebiasaan tersebut bukan hanya karena kurangnya fasilitas, tetapi juga faktor pemahaman dan budaya yang belum berubah.
Baca juga: 8 Kecamatan di Kota Palu Telah Terima Bantuan Kaum Dhuafa dari Baznas, Total Rp1,4 Miliar
Untuk itu, DP3AP2KB bersama lintas sektor terus mendorong edukasi perilaku hidup bersih dan sehat melalui program kampung keluarga berkualitas.
| Ketua DPRD Parimo Sebut Jembatan Rusak di Balinggi Jati Sudah Masuk Rencana Perbaikan |
|
|---|
| RSUD Anuntaloko Parigi Moutong Disidak, Fasilitas dan Kebersihan Dinilai Memprihatinkan |
|
|---|
| Dusun 5 Desa Salepae Parimo Diterjang Banjir, Perbaikan Tanggul Jadi Kebutuhan Mendesak |
|
|---|
| Banjir Rendam 4 Rumah di Dusun 5 Desa Salepae Parigi Moutong |
|
|---|
| Gubernur Sulteng Dorong Pembangunan dan Investasi di Parigi Moutong |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/1000232873jpg.jpg)