Kamis, 11 Juni 2026

Morowali Utara Hari Ini

Kasatpol PP Mororwali Utara Bantah Terlibat Sengketa Lahan di Kelurahan Bahoue

Kejadian itu pertama kali saat ia membeli bahan bangunan dari Kota Palu kemudian dikirim ke Morowali Utara pada bulan Maret 2023.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Supriyanto | Editor: Fadhila Amalia
Handover/Tidak Ada
SENGKETA LAHAN - Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Morowali Utara, Buharman Lambuli beri klarifikasi terkait kasus sengketa lahan antar warga di Kelurahan Bahoue, Kecamatan Petasia, Sulawesi Tengah. 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Supriyanto Ucok

TRIBUNPALU.COM, PALU - Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Morowali Utara, Buharman Lambuli beri klarifikasi terkait kasus sengketa lahan antar warga di Kelurahan Bahoue, Kecamatan Petasia, Sulawesi Tengah.

Buharman Lambuli membantah soal keterlibatannya dalam kasus tersebut.

"Saya tidak tahu soal kasus lahan itu, saya saja tahu nanti beritanya sudah naik," katanya kepada TribunPalu.com, Selasa (9/12/2025).

Baca juga: Kadis Pariwisata Sulteng: Buya Subi Project Promosikan Tenun Donggala ke Dunia Mulai 2026

Berdasarkan keterangan Simson Takasenserang dalam pemberitaan sebelumnya, disampaikan bahwa Firman Tobigo merupakan Kasatpol PP yang turut terlibat dalam kasus itu.

Sehingga, Buharman menegaskan bahwa Firman Tobigo tidak terlibat dalam kasus sengketa lahan tersebut.

"Saya Kepala Satuan, kalau Firman Tobigo itu staf di Satpol PP. Dan dia tidak terlibat dalam penganiayaan itu. Yang ikut itu hanya okum," jelasnya.

Sekadar diketahui bahwa kasus ini bermula saat seorang warga Kelurahan Bahoue, Kecamatan Petasia, Morowali Utara, Simson Takasenserang mendapatkan tindakan penganiayaan dari kelompok warga di Bahoue.

Ia diserang oleh kelompok warga akibat diduga melakukan penyerobotan tanah yang masih menjadi sengketa.

Kejadian itu pertama kali saat ia membeli bahan bangunan dari Kota Palu kemudian dikirim ke Morowali Utara pada bulan Maret 2023.

Baca juga: Truk Bocor di Depan Pelabuhan Rakyat Luwuk, Jalan Terendam Solar dan Pengendara Tergelincir

Setibanya di Morut, bahan bangunan itu diletakkan di pinggir jalan disamping petak lahan milik orangtuanya.

"Kebetulan disitu kebun bapak saya, jadi saya letakkan di pinggir jalan," katanya.

Beberapa hari kemudian, Simson pergi melihat bahan bangunan itu. Ia melihat kelompok masyarakat yang sudah bersiap melakukan penganiayaan. Setelah turun dari mobil, dirinya langsung mendapatkan tindakan pemukulan yang mengarah kewajahnya.

Baca juga: Relawan Padati Perempatan di Kota Palu, Galang Dana untuk Korban Bencana Sumatera

Simson menyebut bahwa kelompok itu dipimpin oleh Ragnos Dwisantosa Tampake yang merupakan seorang Notaris di Kecamatan Petasia, Firman Tobigo, dan Pili Posawa yang juga ikut dalam penganiayaan itu.(*)

Sumber: Tribun Palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved