Kamis, 21 Mei 2026

Donggala Hari Ini

Desa Towale Kembangkan Tenun Donggala Jadi Souvenir Kreatif

Kini berinovasi mengembangkan berbagai produk turunan seperti gantungan kunci, bros, dasi, dompet hingga tas berbahan Tenun Donggala.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Misna Jayanti | Editor: Regina Goldie

Ringkasan Berita:
  • Diferensiasi Produk: Tenun Donggala kini tidak hanya diproduksi dalam bentuk kain (sarung), tetapi telah dikembangkan menjadi berbagai produk fungsional dan suvenir.
  • Skala Internasional: Memanfaatkan peluang pasar Australia melalui kolaborasi dengan CEO Eco Fashion Week Australia (EFWA), Zulhal Kuvan Mills.
  • Pengakuan Global: Terhubung dengan Buya Subi Project yang telah terdaftar di United Nations Fashion Lifestyle.

Laporan Wartawan TribunPalu, Misna Jayanti

TRIBUNPALU.COM, DONGGALA - Tenun Donggala khas Desa Towale, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah tak lagi hanya hadir dalam bentuk kain. 

Kini berinovasi mengembangkan berbagai produk turunan seperti gantungan kunci, bros, dasi, dompet hingga tas berbahan Tenun Donggala.

Warna dan motif souvenir itu pun beragam, seperti dasi berwarna merah motif bomba, ada pula bros berbentuk bunga dengan motif kuda laut hingga gantungan kunci berbentuk kura-kura.

Kepala Desa Towale, Mohammad Subhan, mengatakan pengembangan itu sebagai upaya desa meningkatkan nilai tambah Tenun Donggala sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.

“Ini bentuk inovasi agar Tenun Donggala tidak hanya sebatas kain, tetapi bisa masuk ke berbagai kebutuhan masyarakat,” ujarnya kepada TribunPalu.com Selasa (16/12/2025).

Baca juga: Tenun Donggala Desa Towale Bersiap Tembus Pasar Global

Kepala Desa yang memimpin Desa Towale sejak 2018 itu menyebutkan, ke depan Desa Towale menargetkan mampu memenuhi permintaan pasar yang lebih luas.

Termasuk peluang yang dibuka melalui kerja sama pemerintah, didorong langsung CEO Eco Fashion Week Australia (EFWA), Zulhal Kuvan Mills untuk Buya Subi Project yang telah terdaftar di United Nations Fashion Lifestyle. 

“Kami optimis ke depan Desa Towale bisa melayani permintaan yang saat ini sudah terhubung melalui pemerintah, termasuk pasar Australia,” katanya.

Selain pengembangan produk, pemerintah desa juga mendorong para penenun untuk terus berkreasi melalui motif dan desain baru agar Tenun Donggala tetap relevan dengan tren.

Subhan optimistis, penguatan sektor ekonomi kreatif berbasis budaya lokal mampu mengantarkan Desa Towale menjadi desa mandiri.

Ia pun berharap dukungan dari pemerintah daerah nantinya dan pusat terus berlanjut, terutama dalam hal pendampingan,
fasilitasi, dan akses pemasaran.

Baca juga:
Evaluasi TP3S, Wagub Sulteng Soroti Peran Kader dan Akurasi Data Stunting

Di sisi lain, regenerasi penenun juga menjadi perhatian. Anak-anak muda di Desa Towale didorong untuk mengenal dan mempelajari proses menenun sebagai bentuk pelestarian budaya.

“Tenun Donggala ini memiliki nilai budaya yang sangat tinggi. Ini bukan sekadar produk ekonomi, tapi warisan budaya yang harus dijaga agar tidak punah,” jelasnya.

Dengan potensi besar yang dimiliki, Subhan meyakini Desa Towale yang kini dikenal Desa Wisata mampu berkembang dan menjadi desa mandiri.

"Dengan potensi yang ada, saya yakin Desa Towale bisa berkembang dan mandiri ke depan," tuturnya penuh keyakinan. (*)

 

Sumber: Tribun Palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved