Kamis, 7 Mei 2026

Ramadan 2026

MUI Kota Palu Ajak Umat Kedepankan Tasamuh Sikapi Penetapan Awal Ramadan 1447 H

Menurutnya, perbedaan dalam penentuan awal Ramadan merupakan hal yang wajar dan telah lama menjadi bagian dari dinamika keilmuan Islam.

Tayang:
Editor: mahyuddin
TribunPalu.com/Fadhila
PENETAPAN RAMADAN - Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah (Sulteng), Prof KH Zainal Abidin. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Prof KH Zainal Abidin, menyampaikan pandangannya terkait penetapan awal Ramadan 1447 Hijriyah. Ia mengajak umat Islam untuk bersikap bijak, mengedepankan tasamuh (toleransi), serta menghormati perbedaan pendapat yang ada. 
Ringkasan Berita:
  • Perbedaan dalam penentuan awal Ramadan merupakan hal yang wajar dan telah lama menjadi bagian dari dinamika keilmuan Islam.
  • Baik metode Rukyatul Hilal maupun hisab memiliki dasar dan argumentasi masing-masing yang dapat dipertanggungjawabkan secara syar’i.
  • Perbedaan pandangan dan pemikiran justru dapat menjadi kekayaan intelektual dan keilmuan Islam serta menjadi instrumen pemersatu apabila disikapi dengan saling menghormati dan menghargai.

TRIBUNPALU.COM – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Prof KH Zainal Abidin, menyampaikan pandangannya terkait penetapan awal Ramadan 1447 Hijriyah.

Ia mengajak umat Islam untuk bersikap bijak, mengedepankan tasamuh (toleransi), serta menghormati perbedaan pendapat yang ada.

Menurutnya, perbedaan dalam penentuan awal Ramadan merupakan hal yang wajar dan telah lama menjadi bagian dari dinamika keilmuan Islam.

Baik metode Rukyatul Hilal maupun hisab memiliki dasar dan argumentasi masing-masing yang dapat dipertanggungjawabkan secara syar’i.

“Perbedaan pandangan dan metode sering terjadi di kalangan ulama maupun pemerintah. Itu adalah bagian dari ijtihad. Karena itu, umat Islam harus dewasa dalam menanggapi setiap penetapan yang ada,” kata Prof KH Zainal Abidin, Rabu (18/2/2026).

Baca juga: Jadwal Imsakiyah Kota Palu 1 Ramadan 1447 H, Cek Waktu Imsak dan Buka Puasa Besok

Ia menegaskan bahwa perbedaan tidak perlu dijadikan batu sandungan dalam membangun persaudaraan.

Perbedaan pandangan dan pemikiran, kata dia, justru dapat menjadi kekayaan intelektual dan keilmuan Islam serta menjadi instrumen pemersatu apabila disikapi dengan saling menghormati dan menghargai.

“Kita tidak boleh menjadikan perbedaan sebagai sumber perpecahan. Perbedaan harus menjadi kekuatan dalam kebersamaan. Intinya adalah tasamuh dan saling menghargai,” ucap Prof Zainal.

Ia juga mengimbau umat Islam di mana pun berada agar tidak mudah terprovokasi oleh isu dan narasi yang dapat memperuncing perbedaan, terutama di ruang publik dan media sosial.

Ramadan, lanjutnya, merupakan sarana bagi umat Islam untuk memperkuat persaudaraan, mempererat silaturahmi, dan meningkatkan kualitas ibadah.

“Ke depan, mari kita kedepankan sikap tasamuh dan saling menghargai. Dengan begitu, kita dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang, khusyuk, dan penuh keberkahan,” ungkas Prof Zainal.(*)

Sumber: Tribun Palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved