Kamis, 30 April 2026

Ramadan 2026

Prof Zainal Ajak Umat Bijak Menyikapi Perbedaan

Edisi kali ini menghadirkan Prof Zainal Abidin, Ketua MUI Kota Palu, yang menyampaikan tausiah dari Kantor Majelis Ulama Indonesia bSulawesi Tengah.

Tayang: | Diperbarui:

Ringkasan Berita:
  • Program Ramadhan Qurma (Quotes Ramadhan) kembali tayang 19 Februari 2026 melalui YouTube Tribun Palu Official dan Facebook TribunPalu.
  • Edisi ini menghadirkan Zainal Abidin, Ketua MUI Kota Palu, dari Kantor MUI Sulteng di Palu.
  • Ia menekankan pentingnya menyikapi perbedaan pendapat dalam Islam secara bijak dan dewasa.
  • Perbedaan merupakan warisan tradisi intelektual ulama yang memperkaya khazanah keilmuan Islam, bukan untuk dipertentangkan.

Laporan Wartawan Tribunpalu.com, Andika Satria Bharata 

TRIBUNPALU.COM, PALU - Program spesial Ramadhan Qurma (Quotes Ramadhan) kembali menyapa pemirsa setia TribunPalu.com, Kamis (19/2/2026) pukul 18.05 WITA melalui kanal YouTube Tribun Palu Official dan Facebook TribunPalu.

Edisi kali ini menghadirkan Prof Zainal Abidin, Ketua MUI Kota Palu, yang menyampaikan tausiah dari Kantor Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah di Jalan WR. Supratman No. 51, Palu.

Dalam tausiyahnya, Prof Zainal menekankan pentingnya menyikapi perbedaan pendapat di dalam Islam secara bijak dan dewasa. 

Menurutnya, perbedaan merupakan warisan tradisi intelektual para ulama terdahulu yang justru memperkaya khazanah keilmuan Islam.

“Inilah yang sering diwariskan oleh para ulama kita dahulu. Ketika melihat perbedaan, mereka tidak bertikai dan tidak berkelahi,” ujarnya.

Baca juga: Prof Zainal Abidin: Islam Harus Membahagiakan dan Mengantar Kebaikan bagi Semua

Ia mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada pertanyaan “mana yang paling benar” ketika menghadapi perbedaan. Sebaliknya, yang lebih penting adalah memahami mengapa perbedaan itu terjadi.

“Kalau Anda menemukan perbedaan di dalam Islam, jangan bertanya kenapa terjadi perbedaan atau mana yang benar. Tetapi pertanyaannya, kenapa terjadi perbedaan. Sehingga kita bisa menjelaskan cara berpikir masing-masing,” jelasnya.

Sebagai contoh, Prof Zainal mengisahkan dialog antara Imam Malik dan muridnya, Imam Al-Shafi’i, tentang konsep rezeki.

Imam Malik berpendapat bahwa rezeki sepenuhnya datang dari Allah dan pasti akan sampai kepada hamba-Nya kapan pun Allah menghendaki. 

Sementara Imam Al-Shafi’i berpendapat bahwa rezeki harus diusahakan, bahkan seseorang perlu keluar rumah dan bekerja untuk menjemputnya.

Baca juga: Pemkot Palu Buka Mudik Gratis Idul Fitri 1447 H, Ini Rute, Jadwal Keberangkatan, dan Cara Daftarnya

Perbedaan itu, kata Prof Zainal, muncul karena dalam Al-Qur’an tidak dijelaskan secara teknis bagaimana mekanisme datangnya rezeki, meski terdapat ayat yang menyatakan bahwa setiap makhluk telah dijamin rezekinya oleh Allah.

Ia kemudian menceritakan kisah ringan yang menggambarkan kedewasaan keduanya dalam menyikapi perbedaan. Suatu ketika, Imam Al-Shafi’i keluar rumah dan membantu seorang petani kurma. Sebagai bentuk terima kasih, ia diberi dua kantong kurma. 

Sumber: Tribun Palu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved