Jumat, 5 Juni 2026

Sulteng Hari Ini

BI Sulteng Ingatkan Masyarakat Waspadai Peredaran Uang Palsu, Terutama Malam Hari

Temuan uang rupiah tidak asli di Sulawesi Tengah pada 2025 tercatat menurun dibandingkan tahun sebelumnya. 

Tayang:
Editor: Regina Goldie
TribunPalu/Zulfadli/Zulfadli
Kepala Perwakilan BI Sulteng, Muhammad Irfan Sukarna. 
Ringkasan Berita:
  • Kepala Perwakilan BI Sulteng, Muhammad Irfan Sukarna, mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada saat transaksi, terutama pada malam hari di toko kecil.
  • Temuan uang tidak asli di Sulawesi Tengah pada 2025 menurun dibandingkan 2024.
  • Penurunan mencapai 34 persen (YoY) pada 2025, dibandingkan 69 % pada 2024.

TRIBUNPALU.COM, PALU - Kepala Perwakilan BI Sulteng, Muhammad Irfan Sukarna mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, terutama saat melakukan transaksi pada malam hari.

Ia menjelaskan, kasus peredaran uang tidak asli kerap terjadi di ruko atau toko kecil ketika transaksi berlangsung cepat.

Dalam situasi tersebut, penjual biasanya hanya memiliki waktu beberapa detik untuk memastikan keaslian uang.

Temuan uang rupiah tidak asli di Sulawesi Tengah pada 2025 tercatat menurun dibandingkan tahun sebelumnya. 

Meski demikian, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Tengah menegaskan kewaspadaan tetap harus ditingkatkan.

Kepala Perwakilan BI Sulteng, Muhammad Irfan Sukarna, mengungkapkan secara year on year (YoY), pertumbuhan temuan uang tidak asli pada 2025 berada di angka sekitar 34 persen.

Baca juga: Kanwil BPN Sulteng Dukung Transformasi Digital melalui Penguatan Pengelolaan Arsip

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan 2024 yang mencapai sekitar 69 persen.

“Artinya, terjadi penurunan pertumbuhan temuan uang tidak asli dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Irfan saat ditemui usai Pemusnahan rupiah tidam asli yang berlangsung di Aula Kasiromu BI Sulteng, Jl Sam Ratulangi, Kelurahan Besusu Barat, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu.Kamis (5/3/2026).

Secara nasional, rasio temuan uang tidak asli per satu juta lembar uang beredar juga menunjukkan tren membaik. 

Pada 2024 tercatat 4 PPM (pieces per million) atau 4 lembar per satu juta lembar uang beredar, turun dari periode sebelumnya yang mencapai 5 PPM. 

BI juga mencatat, berdasarkan permintaan klarifikasi perbankan dari masyarakat Sulawesi Tengah selama periode 2014 hingga 2025, terdapat 1.755 lembar rupiah tidak asli. 

Sebanyak 78 persen di antaranya berasal dari klarifikasi melalui perbankan.

Sementara itu, berdasarkan hasil temuan Polda Sulteng, terdapat 3.274 lembar rupiah tidak asli. 

Jumlah tersebut dinilai masih berpotensi bertambah sehingga tetap menjadi tantangan tersendiri dalam pengawasan peredaran uang.

Baca juga: BI Sulteng Catat 1.755 Temuan Rupiah Tidak Asli sejak Tahun 2014

“Proses mengecek dengan cara diraba, diterawang, atau dilihat fitur keamanannya sering kali terabaikan,” jelasnya.

Menurutnya, pusat perbelanjaan besar umumnya telah dilengkapi alat pendeteksi seperti sinar ultraviolet, sehingga pemeriksaan bisa lebih optimal. Tantangan justru berada di toko kecil atau transaksi malam hari yang serba cepat.

Untuk menekan peredaran uang tidak asli, BI menerapkan tiga strategi utama, yakni pre-emptive, edukatif, dan represif.

Dari sisi pre-emptive, penguatan fitur keamanan dilakukan sejak awal proses pencetakan uang

Irfan menyebut, teknologi pengamanan rupiah saat ini semakin canggih, bahkan Indonesia masuk tiga besar dunia dalam hal fitur keamanan uang.

Selain itu, BI terus mengedukasi masyarakat melalui metode 3D, yakni dilihat, diraba, dan diterawang, agar masyarakat dapat mengenali keaslian uang hanya dalam beberapa detik.

Jika masih terjadi pelanggaran, langkah represif melalui penegakan hukum akan dilakukan. Sanksi tegas diharapkan memberi efek jera kepada pelaku pemalsuan uang.

“Risiko hukum yang berat tentu tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh,” tegasnya. (*)

Sumber: Tribun Palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved