Sulteng Hari Ini
BMKG Jelaskan Penyebab Hujan Es di Poso, Dipicu Awan Cumulonimbus
Dalam video yang beredar, terdengar suara benturan butiran es mengenai kendaraan. Warga juga memperlihatkan butiran es yang mereka genggam.
Penulis: Zulfadli | Editor: Regina Goldie
Ringkasan Berita:
- Fenomena hujan es terjadi di Lembah Napu, Kabupaten Poso pada 28 Maret 2026 sore, dipicu oleh pertumbuhan awan cumulonimbus.
- Peristiwa ini terjadi setelah kondisi cuaca cerah berubah menjadi pembentukan awan konvektif akibat peningkatan suhu.
- BMKG menjelaskan hujan es terbentuk dari kristal es dalam awan yang turun cepat tanpa sempat mencair.
Laporan Wartawan TribunPalu.com, Zulfadli
TRIBUNPALU.COM, PALU – Fenomena Hujan Es terjadi di kawasan Lembah Napu, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Sabtu (28/3/2026) sore.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 16.00 WITA dan sempat direkam warga saat butiran es jatuh bersamaan dengan hujan di kawasan Puncak Padeha.
Dalam video yang beredar, terdengar suara benturan butiran es mengenai kendaraan. Warga juga memperlihatkan butiran es yang mereka genggam.
Prakirawan Cuaca BMKG Mutiara Sis Al Jufri Palu, Fathan Labanu, menjelaskan fenomena Hujan Es dipicu oleh pertumbuhan awan konvektif jenis cumulonimbus.
“Fenomena Hujan Es diawali dengan pertumbuhan awan cumulonimbus, yaitu awan yang menjulang tinggi dan berpotensi menimbulkan hujan lebat, petir, angin kencang, hingga Hujan Es,” ujar Fathan, saat ditemui di Kantor BMKG Mutiarq Sis Al Jufri Palu, Kelurahan Birobuli Utara, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Senin (30/3/2026) pagi.
Ia menjelaskan, berdasarkan pantauan citra satelit, kondisi cuaca di wilayah Napu pada pagi hingga siang hari terpantau cerah.
Namun, memasuki sore hari terjadi pertumbuhan awan konvektif secara cepat hingga membentuk awan cumulonimbus.
Menurutnya, kondisi tersebut dipicu oleh meningkatnya suhu muka laut yang mendorong pembentukan awan menjadi lebih tinggi dari biasanya.
Fathan menambahkan, Hujan Es terjadi ketika kristal es di dalam awan turun dengan cepat akibat dorongan arus udara ke bawah atau downdraft, sehingga tidak sempat mencair sebelum mencapai permukaan.
Baca juga: Sulteng Expo Nambaso 2026 Resmi Dimulai 13 April di Jojokodi Convention Center
Ia menegaskan, fenomena Hujan Es bersifat lokal dan tidak terjadi merata di semua wilayah.
“Di Sulawesi Tengah, fenomena ini umumnya terjadi di daerah dengan ketinggian tertentu atau wilayah pegunungan,” jelasnya.
Fathan juga menyebut kejadian Hujan Es di wilayah Napu bukan yang pertama kali terjadi.
Sebelumnya, laporan serupa pernah terjadi di wilayah Lore Barat dan Palolo.
Selain itu, Hujan Es juga sempat dilaporkan terjadi di Kabupaten Banggai pada Februari 2026 lalu, meski berlangsung singkat.
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama saat terdapat peringatan dini hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang.
“Masyarakat diimbau untuk waspada karena dalam kondisi tertentu, cuaca ekstrem juga dapat disertai Hujan Es,” pungkasnya. (*)
| Sentil Perintah Prabowo Soal IUP di Hutan Lindung, Muhammad Safri Minta Pusat Tak Tebang Pilih |
|
|---|
| Klarifikasi RSUD Undata Palu, Optimalisasi Layanan Digital untuk Rujukan Lebih Cepat |
|
|---|
| Soroti Pembukaan Kembali Tambang Maut Hengjaya, Safri: Nyawa Pekerja Bukan Tumbal Investasi |
|
|---|
| RSUD Undata Palu Gelar Operasi Transkateter Perdana, Pasien Jantung Tak Perlu Lagi Dirujuk |
|
|---|
| Kasus Campak di Palu Didominasi Bayi, Dinkes Sulteng Pantau Suspek Campak Aktif |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Hujan-Es-di-Batui-Selatan-Banggai.jpg)