Selasa, 21 April 2026

Morowali Utara Hari Ini

Dari Ramai Jadi Sepi, Cerita UMKM Morowali Utara Terdampak PHK Tambang

Banyak pelaku usaha mengaku belum menerima pembayaran dari kontraktor perusahaan, bahkan terdapat tunggakan hingga miliaran rupiah.

Editor: Fadhila Amalia
Handover
CERITA UMKM - Pemutusan hubungan kerja (PHK) ribuan karyawan perusahaan tambang di Kabupaten Morowali Utara mulai memberikan dampak serius terhadap perekonomian masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar kawasan tambang. 

Ringkasan Berita:
  • PHK ribuan karyawan tambang di Morowali Utara menyebabkan daya beli masyarakat menurun dan berdampak pada lesunya aktivitas UMKM di sekitar kawasan tambang.
  • Banyak pelaku usaha seperti pedagang ayam, sayur, dan jasa catering mengalami penurunan omzet drastis, bahkan sebagian terpaksa menutup usaha.
  • UMKM sebelumnya bergantung pada aktivitas pekerja tambang kini kehilangan pelanggan utama, sehingga perekonomian lokal ikut terpukul.

TRIBUNPALU.COM, MOROWALI UTARA – Pemutusan hubungan kerja (PHK) ribuan karyawan perusahaan tambang di Kabupaten Morowali Utara mulai memberikan dampak serius terhadap perekonomian masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar kawasan tambang.

Menurunnya daya beli masyarakat akibat berhentinya aktivitas sejumlah perusahaan tambang membuat banyak pelaku usaha mengalami penurunan omzet secara drastis.

Bahkan, tidak sedikit usaha yang terpaksa tutup karena sepinya pembeli.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Sulteng, Selasa 21 April 2026, Banggai Kepulauan dan Banggai Laut Cerah

Pedagang ayam potong di Desa Towara, Kecamatan Petasia Timur, Muhammad Arif, mengatakan bahwa UMKM di sekitar kawasan tambang selama ini sangat bergantung pada aktivitas para pekerja perusahaan.

“UMKM di sekitar tambang hidup dari aktivitas karyawan di perusahaan,” ujarnya, Minggu.

Ia menjelaskan, dampak mulai terasa setelah perusahaan melakukan PHK terhadap ribuan pekerja. Kondisi tersebut langsung mempengaruhi perputaran ekonomi masyarakat setempat.

Arif sehari-hari berjualan ayam potong mengaku usahanya ikut terdampak.

Jika sebelumnya ia mampu menjual 10 hingga 15 ekor ayam per hari dengan harga Rp75 ribu per ekor, kini penjualannya hanya tersisa 1 hingga 2 ekor per hari dengan harga turun menjadi Rp70 ribu per ekor.

“Saat ini hanya bisa menjual 1 sampai 2 ekor per hari,” katanya.

Baca juga: Peringati Hari Kartini, PDIP Sulteng Tanam Jagung dan Sebar 11 Ribu Bibit Ikan di Sigi

Kondisi serupa juga dialami Carolina, pedagang buah, sayur, dan rempah di Desa Towara.

Ia mengaku usahanya yang telah berjalan selama enam tahun terpaksa berhenti dalam enam bulan terakhir karena sepinya pembeli.

“Usaha saya sudah enam tahun, tapi enam bulan terakhir akhirnya tutup karena tidak adanya pembeli,” ungkapnya.

Menurut Carolina, saat aktivitas tambang masih berjalan normal, pendapatannya bisa mencapai Rp2 juta hingga Rp3 juta per hari dengan keuntungan bersih sekitar Rp500 ribu.

Namun setelah perusahaan berhenti beroperasi, omzetnya terus menurun hingga tidak mampu bertahan.

“Perusahaan tutup, usaha juga ikut tutup,” ujarnya.

Sumber: Tribun Palu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved