Hari Buruh 2026
Hari Buruh 2026 di Palu, Massa Soroti PHK hingga Eksploitasi Tenaga Kerja
Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Buruh dan Rakyat Berkuasa menggelar aksi unjuk rasa memperingati Hari Buruh Internasional (May Day).
Ringkasan Berita:
- Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Buruh dan Rakyat Berkuasa menggelar aksi May Day 2026 di depan Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Palu, dengan membawa sekitar 22 tuntutan.
- Koordinator lapangan, Muhammad Azis, menyoroti praktik outsourcing yang dinilai masih marak, terutama di kawasan industri, serta menuntut perlindungan hak pekerja perempuan seperti ruang laktasi, cuti hamil, dan bebas dari diskriminasi.
TRIBUNPALU.COM, PALU – Koordinator lapangan aksi Hari Buruh 2026, Muhammad Azis, mengatakan pihaknya membawa sekitar 22 tuntutan dalam aksi tersebut.
“Salah satu yang utama adalah soal Outsourcing. Kami meminta pemerintah bersikap tegas terhadap praktik ini yang masih marak, terutama di kawasan industri,” kata Azis.
Ia menjelaskan, selain isu Outsourcing, massa juga menuntut pemenuhan hak pekerja perempuan seperti ruang laktasi, cuti hamil, serta perlindungan dari diskriminasi dan kekerasan di tempat kerja.
Azis juga menyoroti persoalan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Ia menuturkan, berdasarkan catatan Yayasan Tanah Merdeka, pada 2025 terdapat sekitar 25 kasus kecelakaan kerja di Sulawesi Tengah, sementara pada 2024 tercatat puluhan kasus, termasuk yang menelan korban jiwa.
“Kami menilai ini persoalan struktural. Banyak perusahaan yang tidak taat hukum ketenagakerjaan,” ujarnya.
Selain itu, ia mengungkapkan bahwa aksi serupa juga digelar oleh serikat buruh lain di kawasan industri Morowali, dengan isu tambahan seperti PHK sepihak dan praktik union busting.
Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Buruh dan Rakyat Berkuasa menggelar aksi unjuk rasa memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Kota Palu, Jumat (1/5/2026).
Baca juga: Ratusan Mahasiswa Aksi May Day di Palu, Desak Hapus Outsourcing Hingga Soroti Kecelakaan Kerja
Aksi dipusatkan di depan gerbang Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Jl Sam Ratulangi, Kelurahan Besusu Barat, Kecamatan Palu Timur.
Pantauan TribunPalu.com di lokasi, massa aksi memadati badan jalan sambil membawa spanduk dan bendera organisasi.
Sejumlah peserta tampak mengenakan almamater kampus seperti Unisa dan UIN Datokarama Palu.
Bendera organisasi seperti Walhi, Partai Hijau Indonesia, Yayasan Tanah Merdeka, GMNI hingga FSPIM juga berkibar di tengah kerumunan.
Dalam aksi tersebut, massa sempat membakar ban di tengah jalan dan bergantian menyampaikan orasi dari atas mobil komando.
Terlihat beberapa orator berdiri di atas bak kendaraan, menyuarakan tuntutan di hadapan massa yang berbaris rapi menutup sebagian ruas jalan.
Di sisi lain, spanduk berwarna merah bertuliskan tuntutan kesejahteraan buruh dibentangkan di barisan depan.
Selain itu, massa juga membagikan selebaran berjudul “Aliansi Buruh & Rakyat Berkuasa”.
Dalam selebaran tersebut, tertulis seruan “Ganyang Kapitalisme” disertai ilustrasi buruh mengangkat palu di tengah latar pabrik berasap.
Isi selebaran menyoroti gelombang PHK, praktik kerja berbahaya, hingga tuntutan jaminan kerja layak dan perlindungan buruh.
Selebaran itu juga mengkritik praktik eksploitasi tenaga kerja, termasuk program magang yang dianggap menjadikan mahasiswa sebagai tenaga kerja murah.
Massa menyerukan solidaritas buruh, penolakan ketidakadilan, serta ajakan untuk membangun kekuatan kolektif dalam memperjuangkan hak-hak pekerja.
Dalam aksinya di Palu, massa secara tegas menuntut Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, untuk hadir langsung menemui mereka.
“Kami ingin dialog terbuka, bukan pertemuan tertutup. Supaya semua transparan dan disaksikan langsung oleh massa aksi,” tegas Azis.
Hingga aksi berlangsung, massa masih bertahan di depan kantor gubernur sambil menunggu kehadiran pihak pemerintah untuk berdialog. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/1000123903810983190jpggg.jpg)