PDIP Sulteng
Luncurkan Buku “Bendera Tidak Pernah Diturunkan”, Muharram Nurdin Kritik Politik Pragmatis
Muharram tidak hanya mengisahkan perjalanan pribadinya, tetapi juga melontarkan kritik terhadap praktik politik yang dinilainya semakin pragmatis.
Penulis: Zulfadli | Editor: Fadhila Amalia
Ringkasan Berita:
- Politisi PDI Perjuangan PDI Perjuangan Sulawesi Tengah, H Muharram Nurdin, meluncurkan buku berjudul “Bendera Tidak Pernah Diturunkan” di Palu.
- Buku tersebut berisi refleksi perjalanan politik serta kritik terhadap pergeseran politik dari ideologi menuju pragmatisme.
- Muharram menekankan pentingnya kesetiaan ideologis dan mengajak kader partai untuk berpolitik sebagai bentuk pengabdian, bukan sekadar mengejar jabatan.
Laporan Wartawan TribunPalu.com, Zulfadli
TRIBUNPALU.COM, PALU – Penulis sekaligus politisi PDI Perjuangan Sulawesi Tengah, H Muharram Nurdin, meluncurkan buku berjudul "Bendera Tidak Pernah Diturunkan" memuat refleksi panjang perjalanan politiknya, khususnya di Sulawesi Tengah.
Dalam wawancara bersama TribunPalu.com, di Kantor DPD PDI Perjuangan Provinsi Sulawesi Tengah, Jl Sungai Ogomojolo, Kelurahan Nunu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Rabu (6/5/2025).
Muharram tidak hanya mengisahkan perjalanan pribadinya, tetapi juga melontarkan kritik terhadap praktik politik yang dinilainya semakin pragmatis.
Baca juga: PT IGIP Dukung Pelatihan Tenaga Kerja Lokal di Morowali, Bekali Peserta Dunia Industri
Ia menilai, partai politik kini lebih sering dipandang sebagai kendaraan elektoral ketimbang wadah perjuangan ideologi.
“Buku ini saya niatkan sebagai rekaman perjalanan manusia, bukan untuk mengagungkan masa lalu atau menampilkan diri sebagai tokoh yang selalu benar,” ujar Muharram.
Ia menuturkan, ide menulis buku sebenarnya sudah muncul sejak dirinya menjabat anggota DPRD Sulteng periode 2004–2009.
Namun, upaya tersebut kerap terhenti di tengah jalan hingga akhirnya ia menyelesaikannya dengan bantuan rekan dari kalangan media.
Menurut Muharram, judul buku tersebut terinspirasi dari pidato Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, pada 1993 yang menegaskan komitmen politik tanpa kompromi.
Baca juga: BREAKING NEWS: Jalan Dialihkan Perusahaan Sementara, Warga di Banggai Palang Jalan
Baginya, “bendera” dalam konteks buku ini adalah simbol prinsip yang harus dijaga, bukan sekadar slogan.
Ia juga menekankan bahwa politik tidak hanya berlangsung di ruang-ruang formal, tetapi justru sering hadir dalam ruang-ruang kecil yang luput dari sorotan, seperti diskusi sederhana, aksi jalanan, hingga kerja-kerja sosial.
Sebagai akademisi yang menempuh pendidikan lintas disiplin, mulai dari Bahasa Inggris, Sosiologi, Kebijakan Publik hingga Ilmu Hukum di Universitas Tadulako dan Universitas Hasanuddin, Muharram menyebut buku ini juga memuat pendekatan analisis struktural dan refleksi moral.
“Kesetiaan ideologis itu bukan kepatuhan membisu, tetapi komitmen etis untuk bertahan pada nilai, bahkan ketika nilai itu tidak menjanjikan keuntungan cepat,” jelasnya.
Ia menilai, praktik politik saat ini cenderung bergeser dari ideologi menuju pragmatisme.
Partai politik, kata dia, lebih sering dipandang sebagai kendaraan elektoral dibandingkan sebagai wadah perjuangan gagasan.
Sulawesi Tengah
PDIP Sulteng
Kelurahan Nunu
Kecamatan Tatanga
Kota Palu
Muharram Nurdin
Muharram
PDI Perjuangan
| I Nyoman Slamet Gandeng Mahasiswa STAH Dharma Sentana Gelar Aksi Bersih Pantai Arjuna di Parimo |
|
|---|
| Fraksi PDIP Bangkep dan Dinas Perhubungan Pasang Lampu Jalan Sepanjang 200 Meter |
|
|---|
| Elisa Bunga Allo Salurkan Bibit Ikan Nila dan Lele untuk Perkuat Ketahanan Pangan di Palu |
|
|---|
| Aleg PDIP Banggai Minta Pemkab Tindaklanjuti Permenaker Soal Outsourcing |
|
|---|
| Sri Indraningsih Lalusu Peringati May Day 2026 Bersama Buruh Pelabuhan Salakan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Muharram-Nurdin-Kritik-Politik-Pragmatis.jpg)