Sigi Hari Ini
Program Adaptasi Perubahan Iklim Sigi Targetkan 1.500 Penerima Manfaat
Program Adaptasi Perubahan Iklim Kabupaten Sigi dirancang untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman.
Ringkasan Berita:
- Pemerintah Kabupaten Kabupaten Sigi bersama Konsorsium KOLABORASI meluncurkan Program Adaptasi Perubahan Iklim 2026–2028 untuk memperkuat ketahanan masyarakat terhadap dampak krisis iklim, terutama di sektor pertanian dan pedesaan.
- Program ini menargetkan lebih dari 1.500 penerima manfaat di enam desa: Bangga, Pandere, Pakuli Utara, Sambo, Simoro, dan Wisolo.
TRIBUNPALU.COM, SIGI – Program Adaptasi Perubahan Iklim Sigi menargetkan ebanyak lebih dari 1.500 penerima manfaat terlibat dalam program tersebut.
Pemerintah Kabupaten Sigi bersama Konsorsium KOLABORASI resmi meluncurkan Program Adaptasi Perubahan Iklim Kabupaten Sigi periode 2026-2028.
Sebagai langkah memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi dampak krisis iklim, khususnya di sektor pertanian dan wilayah pedesaan.
Peluncuran program berlangsung di Aula Kantor Bupati Sigi, Desa Bora, Kecamatan Sigi Kota Kabupaten Sigi.
Dihadiri langsung Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, bersama sejumlah pemangku kepentingan dari tingkat daerah hingga nasional.
Konsorsium KOLABORASI merupakan gabungan sejumlah lembaga yang bergerak di bidang lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Yakni Koaksi Indonesia, Lingkar Temu Kabupaten Lestari, Water Stewardship Indonesia, serta Earth Innovation Institute.
Baca juga: Enam Desa di Sigi Jadi Lokasi Manfaat Program Adaptasi Perubahan Iklim untuk 1.500 Warga
Selain dihadiri unsur pemerintah daerah, kegiatan tersebut juga melibatkan perwakilan Kemitraan untuk Pembaruan Tata Kelola serta Kementerian Lingkungan Hidup yang mengikuti agenda secara daring melalui Zoom Meeting.
Program Adaptasi Perubahan Iklim Kabupaten Sigi dirancang untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman.
Perubahan iklim yang semakin nyata, seperti banjir dan kekeringan yang berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian dan ketahanan pangan.
Dalam implementasinya, program ini difokuskan pada tiga pilar utama, yakni penguatan enabling environment atau dukungan kebijakan adaptasi iklim di tingkat daerah.
Penerapan pendekatan Water, Energy, Food (WEF) Nexus di tingkat desa, serta pengembangan pusat pembelajaran adaptasi perubahan iklim atau center of excellence di tingkat kabupaten.
Program ini tersebar di enam desa, masing-masing Desa Bangga, Desa Pandere, Desa Pakuli Utara, Desa Sambo, Desa Simoro, dan Desa Wisolo.
Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Konsorsium KOLABORASI yang telah memilih Kabupaten Sigi sebagai lokasi implementasi program adaptasi perubahan iklim.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor sangat penting di tengah keterbatasan fiskal daerah untuk tetap menghadirkan program yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Di tengah keterbatasan fiskal daerah saat ini, program ini menjadi oase bagi pemerintah daerah untuk tetap mendorong kinerja dan kebijakan iklim di Kabupaten Sigi. Kolaborasi seperti ini membuktikan bahwa solusi konkret dapat dihadirkan untuk masyarakat di tingkat tapak,” ujar Rizal.
Ia menegaskan, Kabupaten Sigi merupakan salah satu daerah yang cukup rentan terhadap dampak perubahan iklim, terutama ancaman banjir dan kekeringan yang kerap mempengaruhi sektor pertanian masyarakat.
Baca juga: Tiara Alisa Ungkap Permintaan Diluar Program Nasi Darurat Palu: Ada Gas dan Rokok
Sementara itu, Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Franky Zamzani, menilai program di Kabupaten Sigi dapat menjadi contoh praktik baik dalam pelaksanaan adaptasi iklim berbasis kebutuhan masyarakat lokal.
“Program di Sigi ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi lintas sektor dapat menghadirkan solusi yang konkret dan terukur,” katanya.
Hal senada disampaikan Program Manager Environment and Sustainable Governance Kemitraan untuk Pembaruan Tata Kelola, Willy Wicaksono.
Ia menilai program tersebut menjadi salah satu model pemanfaatan pendanaan iklim internasional yang inklusif dan tepat sasaran.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Koaksi Indonesia, Aria Nagasastra, menjelaskan bahwa program tersebut lahir dari keyakinan bahwa upaya adaptasi perubahan iklim yang efektif harus dimulai dari komunitas yang paling terdampak.
Ia menyebut pendekatan Water, Energy, Food (WEF) Nexus menjadi strategi penting untuk memastikan ketahanan air, energi, dan pangan dapat berjalan secara terpadu dan berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, Forum Kemitraan Multipihak Sigi Hijau (FKPM) juga diharapkan berperan memperkuat koordinasi lintas pemangku kepentingan guna mendukung keberhasilan program.
Program Adaptasi Perubahan Iklim Kabupaten Sigi dijadwalkan berlangsung hingga April 2028 dan diharapkan mampu memperkuat fondasi kolaborasi multipihak dalam mewujudkan daerah yang tangguh menghadapi tantangan perubahan iklim di masa mendatang.
Selain peluncuran program, kegiatan tersebut turut dirangkaikan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Sigi dan Koaksi Indonesia selaku lead consortium.
Penandatanganan dilakukan langsung oleh Bupati Sigi bersama Direktur Eksekutif Koaksi Indonesia sebagai bentuk komitmen bersama dalam pelaksanaan program tersebut.(*)
| Enam Desa di Sigi Jadi Lokasi Manfaat Program Adaptasi Perubahan Iklim untuk 1.500 Warga |
|
|---|
| Pemkab Sigi Luncurkan Program Adaptasi Perubahan Iklim 2026-2028 |
|
|---|
| Kejari Sigi Buka Peluang Tambah Tersangka Kasus Korupsi Proyek Pakan |
|
|---|
| Dua Pejabat Dinas Peternakan Sigi Ditahan, Diduga Peras dan Terima Gratifikasi Proyek Rp767,7 Juta |
|
|---|
| BREAKING NEWS: Kejari Sigi Tetapkan 2 Pejabat Dinas Peternakan Tersangka Dugaan Korupsi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/G-D7A8GD7A8JPGGG.jpg)