Kamis, 28 Mei 2026

Podcast DPRD Morowali

Herlan Anggota DPRD Morowali, Dari Mantan Tukang Ojek dan Buruh Kasar Kini 2 Periode di Parlemen

Baginya, keluhan masyarakat tidak harus didengarkan dalam ruang rapat yang kaku.

Tayang:
Editor: Regina Goldie
Ringkasan Berita:
  • Herlan, anggota DPRD Morowali dari Fraksi Perindo, berhasil terpilih kembali untuk periode kedua.
  • Ia dikenal memiliki latar belakang hidup yang berat, pernah menjadi anak jalanan dan bekerja sebagai buruh kasar serta tukang ojek untuk bertahan hidup dan membiayai kuliah.

TRIBUNPALU.COM - Ruang parlemen Kabupaten Morowali hari ini dihiasi oleh figur-figur yang lahir dari rahim perjuangan nyata, salah satunya adalah Herlan.

Anggota DPRD dari Fraksi Perindo yang kini sukses mengamankan kursinya untuk periode kedua tersebut ternyata menyimpan rekam jejak masa lalu yang sarat akan kerja keras.

Siapa sangka, politisi yang kini menjadi penyambung lidah rakyat di Dapil Dua Morowali ini dulunya tumbuh sebagai anak jalanan yang pernah melakoni pekerjaan sebagai buruh kasar hingga tukang ojek demi bisa bertahan hidup dan menyelesaikan pendidikannya.

Keberhasilan Herlan mempertahankan kepercayaan konstituen hingga dua periode berturut-turut tidak terlepas dari gaya komunikasinya yang sangat membumi dan jauh dari kesan formalitas.

Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama TribunPalu.com, Herlan mengungkapkan bahwa dirinya sengaja mendobrak batasan sekat birokrasi dalam menyerap aspirasi.

Baca juga: Dilantik Di Umur 27 Tahun, Gen Z Jadi Legislator DPRD Morowali

"Sebenarnya penyerapan aspirasi itu bukan secara kelembagaan resmi saja yang dijadwalkan oleh kegiatan DPRD yang terstruktur," ujar Herlan menegaskan prinsip kerjanya di Podcast Tribun VIP.

Baginya, keluhan masyarakat tidak harus didengarkan dalam ruang rapat yang kaku.

Kebiasaan nongkrong di warung kopi, menyambangi rumah-rumah warga secara langsung, hingga mengobrol santai di pinggir lapangan sepak bola menjadi senjatanya untuk terus merekatkan hubungan dengan konstituen.

Bagi Herlan, esensi dari penyerapan aspirasi adalah kedekatan emosional, di mana diskusi santai bersama dua atau tiga orang warga di desa sudah lebih dari cukup untuk menangkap apa yang menjadi kebutuhan riil di bawah.

"Penyaluran aspirasi itu yang memberikan masyarakat bukan cuman di tempat yang banyak orang. Dua orang, tiga orang, empat orang kita cerita, itu juga salah satu penyerapan aspirasi untuk di setiap dapil saya," tambahnya.

Baca juga: Beasiswa Iklas Juara Dinilai Jadi Bukti Komitmen Pemkab Morowali di Dunia Pendidikan

Konsistensi inilah yang terus ia rawat dengan merangkul seluruh elemen, mulai dari berdiskusi dengan regenerasi muda melalui jejaring Karang Taruna, hingga meminta nasihat kepada para orang tua dan tokoh agama di wilayahnya.

Jika menengok ke belakang, perjalanan hidup Herlan memang jauh dari kemudahan. Lahir dari seorang ayah yang merupakan petani tulen, masa remaja Herlan diwarnai dengan hidup yang berpindah-pindah daerah demi mengikuti orang tuanya mengadu nasib mencari nafkah.

Dirinya sempat mengecap masa kecil di Makassar sebelum akhirnya kembali ke Morowali, lalu melanjutkan sekolah menengah di wilayah Wiwirano, Konawe Utara, hingga akhirnya menempuh bangku kuliah di Universitas Muhammadiyah Kendari.

Selama fase perpindahan hidup itulah Herlan menempa diri dengan bekerja serabutan sebagai buruh kasar dan pemetik rotan guna membantu orang tuanya yang merupakan petani cokelat.

Bahkan, profesi sebagai tukang ojek pun mantap ia jalani demi bisa membiayai kuliahnya secara mandiri sampai tuntas.

Menariknya, himpitan ekonomi sama sekali tidak menyurutkan langkah Herlan untuk aktif di dunia organisasi.

Baca juga: Honorer Donggala Ceritakan Perjuangan Demi Status Paruh Waktu, Jemput Bola Hingga Kementerian

Jiwa kepemimpinannya justru terasah kuat di jalanan dan kampus, terbukti dengan amanah yang pernah ia pimpin mulai dari Ketua Karang Taruna Kecamatan, Ketua Paguyuban Mahasiswa, hingga puncaknya menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampusnya.

"Jujur saya anak jalanan, hidup di jalan, besar di jalan, sehingga terbukalah komunikasi sama masyarakat dan teman-teman bahwa kita datang apa adanya," kenang Herlan mengenai masa-masa pembentukan karakternya.

Tempaan di organisasi kemahasiswaan seperti HMI dan lembaga diklat inilah yang kemudian memicu cita-citanya sejak sebelum lulus kuliah untuk terjun ke dunia politik praktis melalui pintu partai politik.

Ketika berbicara mengenai titik balik yang memotivasi dirinya masuk ke dunia politik yang terkenal keras dan penuh tekanan, Herlan mengaku bahwa dorongan terbesarnya sangat sederhana namun mendalam, yaitu keinginan kuat untuk mengubah nasib dan mengangkat derajat keluarganya.

"Masa misalnya orang tua saya petani, saya juga mau jadi petani? Artinya ini salah satu pendorong untuk motivasi saya sehingga bisa menjadi anggota DPR seperti yang sekarang," ungkapnya blak-blakan.

Menutup kisahnya, Herlan menegaskan bahwa pandangan umum masyarakat yang melihat politisi hanya dari sisi kesuksesan materi dan kemewahan adalah sebuah kekeliruan besar.

"Sebenarnya ini kalau untuk di dunia politik, ini semata-mata pengabdian," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved