Ekspedisi Poso, Ungkap Peradaban Hingga Temukan Bukti Rekahan Sesar Poso Barat

Perjalanan pertama tim Ekspedisi Poso , menemukan bukti prasejarah, bukti adanya rekahan Sesar Poso Barat hingga keluarga spesies ikan endemik

Ekspedisi Poso, Ungkap Peradaban Hingga Temukan Bukti Rekahan Sesar Poso Barat
Dok. Institut Mosintuwu
Perjalanan pertama Tim Ekspedisi Poso 

Sementara itu, tim Biologi melakukan penyelaman di wilayah pantai dan menemukan pelbagai spesies ikan yang menunjukkan keanekaragaman hayati Danau Poso.

Di wilayah Tindoli dan Tokilo, masih ditemukan zona transisi.

Dimana ikan-ikan bisa berkembang biak dan beristirahat sehingga ekosistem Danau Poso masih terjaga.

Iktiologi dari Universitas Sintuwu Maroso, Dr Meria Tirsa Gundo mengatakan, keberadaan ikan buntinge dan bungu saat ini langka.

Jarang dijumpai, sehingga status konservasinya endangered.

Bagi sebagian besar masyarakat di Danau Poso, jenis ikan rono hanya disebut rono saja.

Tapi bagi kelompok biologi, rono punya 4 jenis, kadang tergantung pada mata, ekor, sisik dan sebagainya.

Saat sedang melakukan pengamatan di air, di wilayah Desa Tokilo, ketiganya menemukan seekor ikan kecil yang baru saja dijaring yang ternyata adalah spesies Bungu.

Namun Dr. Meria mengingatkan, Ikan Bungu yg ditemukan merupakan ikan Bungu Masiwu.

Spesies yg berbeda dengan spesies yang sudah langka atau diduga punah.

Dia menegaskan indikasi kemiripan dengan spesies Bungu yang sudah punah memerlukan langkah justifikasi ahli lewat prosedur ilmiah.

Saat berada di air terjun Saluopa, Evan dan Kurniawan, anggota tim biologi ekspedisi Poso berdiskusi cukup lama untuk menentukan ikan kecil yang baru saja mereka temukan.

Meskipun menemukan beberapa endemik habitat sungai dan Danau Poso, kali ini ikan kecil yang mereka temukan membutuhkan ekstra perhatian agar mereka tidak keliru menyebutkan.

Setelah bolak balik mengeceknya, mereka berdua bersepakat bahwa ikan yang ditemukan itu keluarga Adrianichthys Oophorus.

Ini adalah keluarga spesies ikan Buntinge atau Buntingi.

Seperti Dr. Meria, mereka juga menyatakan bahwa spesies ini perlu justifikasi ahli melalui prosedur ilmiah.

Mereka menyimpan dengan sangat hati-hati di dalam toples untuk diperiksa kembali di laboratorium.

Dr. Herry Yogaswara, tim ahli ekspedisi Poso yang juga seorang antropolog, menelusuri jejak sejarah masa lalu dengan mendengarkan cerita warga.

Salah satu cerita yang didapatkan oleh tim ekspedisi Poso adalah runtuhnya satu kampung ke dalam Danau Poso.

Cerita tentang tanjung di Bancea ini menggambarkan adanya sebuah peristiwa pesta yang melibatkan seluruh warga.

Namun berakhir dengan runtuhnya kampung ke dalam danau dan mengubah semua penghuni menjadi batu, karena mentertawakan katak.

Dongeng masyarakat ini diikuti dengan penelusuran para tim ahli geologi dan arkeologi ke wilayah tersebut dan menemukan balok-balok batu besar yang runtuh ke dalam danau.

Herry menekankan bahwa cerita rakyat menjadi penting sebagai bagian dari penelusuran potensi bencana.

"Orang tua kita dulu menceritakan peristiwa alam yang pernah terjadi melalui dongeng atau cerita rakyat," jelas Herry.

Karena itu menurut Herry, penelusuran cerita rakyat dalam ekspedisi poso menunjukkan pengetahuan lokal masyarakat penting.

Salah satu pengetahuan lokal masyarakat menyusun mitigasi bencananya sendiri terlihat dari sejarah masyarakat di Toinasa.

Masyarakat di Toinasa sebelumnya pernah tinggal di tepi Danau Poso.

Tapi gempa membuat mereka menggeser batas tinggal desa menjauhi Danau Poso.

Wilayah gempa yang pernah dirasakan dalam sejarah masyarakat di Toinasa dikenal dengan nama Lindugi.

Setiap malam, setelah selesai melakukan penelusuran, tim ekspedisi Poso melakukan dialog bersama dengan masyarakat.

Dialog diikuti oleh semua anggota masyarakat, mulai dari anak-anak, anak muda, tua dan lansia.

Dalam dialog, masyarakat mendengarkan hasil sementara temuan, dan bertanya tentang sesar, gempa, tsunami, likuifaksi, longsor serta temuan-temuan yang diperoleh tim ekspedisi dalam penjelajahan satu hari.

Lian Gogali, ketua ekspedisi Poso menjelaskan capaian pertama perjalanan ekspedisi Poso di desa-desa adalah kesadaran bahwa mereka hidup di atas patahan.

Temuan ekspedisi Poso, menurutnya akan membuat kesadaran tentang hidup di atas patahan mendorong kebijakan pembangunan di desa dan Kabupaten Poso mempertimbangkan mitigasi bencana.

"Selama ini kita membangun asal membangun, tapi tidak menghargai keberagaman budaya, alam dan terutama tidak mempertimbangkan potensi bencana di Kabupaten Poso," ungkpnya.

"Karena itu, temuan-temuan tim ekspedisi Poso nantinya akan menjadi dokumen bersama yang bisa dibaca oleh masyarakat dan menjadi panduan dalam menyusun perencanaan pembangunan di desa dan di Kabupaten," tambahnya.

(Tribunpalu.com/Abdul Humul Faaiz).

Penulis: Faiz Sengka
Editor: Imam Saputro
Sumber: Tribun Palu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved