Kamis, 30 April 2026

Boris Johnson: Sosok Kontroversial yang Jadi Perdana Menteri Baru Inggris

Boris Johnson akhirnya memenuhi ambisinya menjadi Perdana Menteri Inggris, berikut rekam jejaknya sebemum jadi perdana menteri.

Tayang:
Editor: Imam Saputro
Kompas.com/Darren Staples/Toby Melville
Mantan Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson. 

Johnson memiliki rekor kehadiran yang rendah di parlemen.

Walaupun begitu, dia dipercaya memegang sejumlah posisi sebagai Wakil Ketua Umum Partai, Menteri Bayangan Kebudayaan serta Menteri Bayangan Pendidikan Tinggi.

Cerita Penangkapan Jefri Nichol, Berawal dari Kecurigaan Datangnya Produser Habibie Ainun 3

Di periode ini, skandal perselingkuhannya terkuak ke publik yang membuat dia dilengserkan dari posisinya.

Skandal demi skandal tidak menghambat karir politiknya. Pada 2008, dia secara mengejutkan terpilih sebagai Wali Kota London, kota basis kuat Partai Buruh, mengalahkan petahana dua periode Ken Livingstone.

Popularitasnya sebagai wali kota melesatkan namanya ke kancah politik nasional.

Dia memimpin London menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2012.

Salah satu kebijakan paling populer adalah menginiasiasi transportasi sepeda umum di ibukota Inggris itu.

Selain itu angka kriminal juga menurun tajam sepanjang delapan tahun jabatannya.

Gaya politiknya yang terkesan tidak serius, membingungkan, berantakan, serta tanpa arah namun anehnya kharismatik dan humoris menjadi pesona khas yang semakin lekat di dirinya hingga membuat dia dibandingkan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Sekjen PDIP Sebut Megawati dan Prabowo Bakal Adakan Pertemuan Hari Ini

Tidak ketinggalan juga adalah gaya rambutnya yang kerap acak-acakan, cara berpakaian yang tidak rapi, serta sering terlambat ke acara.

Brexit dan Kursi PM Inggris

Ambisinya menjadi perdana menteri mulai tercium ketika Johnson kembali ke parlemen Inggris pada 2015 mewakili distrik Uxbridge dan Ruislip Selatan.

Johnson kemudian menjadi arsitek utama kampanye “Leave” pada referendum Brexit atau keanggotaan Inggris di Uni Eropa pada 2016.

Dia berkampanye ke seluruh penjuru negeri menggunakan bus besar merahnya menjabarkan kerugian yang diderita Inggris jika memilih bertahan di Uni Eropa.

Kampanyenya menjadi sorotan dan kritik termasuk dari rekan partai dan Cameron karena sejumlah pernyataan politiknya yang oportunis, tidak benar, serta membohongi warga Inggris.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved