Tanggapi Keraton Agung Sejagat, Antropolog: Totok Paham Pasarnya, Orang Malas dan Maunya Instan

Seorang Antropolog, Nurhadi pun memberi tanggapan terkait gegernya Keraton Agung Sejagat.

Tanggapi Keraton Agung Sejagat, Antropolog: Totok Paham Pasarnya, Orang Malas dan Maunya Instan
IST/Twitter via ReqNews
Totok Santoso Hadiningrat alias Sinuhun sebagai Raja Keraton Agung Sejagat, dan Dyah Gitarja sebagai Kanjeng Ratu 

TRIBUNPALU.COM - Keraton Agung Sejagat tengah menjadi perbincangan hangat belakangan ini.

Hal itu berkaitan dengan penipuan yang dilakukan sang raja 'palsu' bernama Totok Santosa.

Pasalnya, anggota yang bergabung diiming-imingi mendapatkan gaji bulanan dalam bentuk dolar.

Tak hanya itu saja, mereka juga ditawarkan memperoleh jabatan di Keraton.

Namun jika ingin mendapatkan jabatan, mereka diharuskan membayar uang sebesar Rp 3-10 juta.

Seorang Antropolog, Nurhadi pun memberi tanggapan terkait gegernya Keraton Agung Sejagat.

Menurut pria yang juga menjabat sebagai Kaprodi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, fenomena itu berkaitan dengan kecenderungan orang yang merasa kehilangan harapan.

Harapan itu bisa bermacam-macam bentuknya.



Keramaian warga saat mengunjungi Kerajaan Keraton Agung Sejagat, pada Selasa (14/1/2020).
Keramaian warga saat mengunjungi Kerajaan Keraton Agung Sejagat, pada Selasa (14/1/2020). (Permata Putra Sejati/Tribun Jateng)

Bisa karena kondisi ekonomi dan juga sosial di dalam tatanan kehidupannya.

"Sekarang ini ada kecenderungan banyak orang merasa kehilangan harapan, mungkin kondisi ekonomi atau sosial. Untuk itu mereka ingin memperoleh sesuatu yang menurut mereka akan membawa sebuah kebahagiaan," ujar Nurhadi kepada Tribunnews.com, Kamis (16/1/2020).

Halaman
123
Editor: Rizkianingtyas Tiarasari
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved