Breaking News:

Virus Corona

Ragukan Prediksi Covid-19 Berakhir Pada Juni 2020, Pakar Epidemiologi: Bisa Bergeser 1-2 Bulan

Pakar Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), dr Syahrizal Syarif ragu kalau corona bisa berakhir pada Juni

Twitter/@WHO
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan nama resmi untuk virus corona baru (2019-nCoV), COVID-19. 

TRIBUNPALU.COM - Pakar Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), dr Syahrizal Syarif merasa ragu pandemi Covid-19 di Indonesia akan berakhir pada bulan Juni.

Awalny, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan akhir Juni virus corona (covid-19) di Indonesia bisa berakhir, dan kehidupan masyarakat kembali normal pada Juli mendatang.

Tak setuju dengan prediksi Doni Monardo, Syahrizal justru memprediksikan akhir corona di Indonesia bisa mundur sampai dua bulan dari Juni atau sekitar Agustus.

Syahrizal menjelaskan masa pandemi covid-19 bisa semakin lama karena laporan kasus belum menggambarkan kasus yang sebenarnya ada di masyarakat.

Viral di NTB, Bule asal Rusia Mengamen Demi Sesuap Makan, Duit Habis & Tak Bisa Pulang karena Corona

Orang Tanpa Gejala Bisa Sembuh Sendiri dari Covid-19? Simak Penjelasan dari Dokter Corona

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, memukul gong tanda dibuka Seminar Nasional bertajuk Penerapan Inovasi Teknologi dan Pendekatan Ekosistem Dalam Penanggulangan Bencana Berbasis Kearifan Lokal yang diselenggarakan BNPB dan Expoindo Kayanna Mandiri, Senin (24/2/2020) di Gedung Graha BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Utara.

Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran dan wawasan seluruh elemen bangsa terkait pemanfaatan teknologi, dan menjaga ekosistem berbasis kearifan lokal dalam penanganan bencana. 

Seminar Nasional ini merupakan rangkaian acara Asia Disaster Management dan Civil Protection Expo dan Conference (ADEXCO) yang akan berlangsung pada 20-22 Oktober 2020 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. 

ADEXCO sebagai pameran dan konferensi terbesar di dunia terkait kebencanaan, merupakan upaya untuk menempatkan Indonesia sebagai pusat solusi kebencanaan di kawasan Asia. 

Mengusung tagline Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita, ADEXCO akan diikuti oleh 300 exhibitor yang memamerkan hulu dan hilir industri kebencanaan. Mulai dari Disaster Alarm dan Warning System, Fire Protection Equipment, Power Device, CCTV, hingga Emergency dan Rescue Equipment. Adapun jumlah pengunjung (potensial visitor) yang ditargetkan oleh penyelenggara sebanyak 10.000 pengunjung. TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, memukul gong tanda dibuka Seminar Nasional bertajuk Penerapan Inovasi Teknologi dan Pendekatan Ekosistem Dalam Penanggulangan Bencana Berbasis Kearifan Lokal yang diselenggarakan BNPB dan Expoindo Kayanna Mandiri, Senin (24/2/2020) di Gedung Graha BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Utara. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran dan wawasan seluruh elemen bangsa terkait pemanfaatan teknologi, dan menjaga ekosistem berbasis kearifan lokal dalam penanganan bencana. Seminar Nasional ini merupakan rangkaian acara Asia Disaster Management dan Civil Protection Expo dan Conference (ADEXCO) yang akan berlangsung pada 20-22 Oktober 2020 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. ADEXCO sebagai pameran dan konferensi terbesar di dunia terkait kebencanaan, merupakan upaya untuk menempatkan Indonesia sebagai pusat solusi kebencanaan di kawasan Asia. Mengusung tagline Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita, ADEXCO akan diikuti oleh 300 exhibitor yang memamerkan hulu dan hilir industri kebencanaan. Mulai dari Disaster Alarm dan Warning System, Fire Protection Equipment, Power Device, CCTV, hingga Emergency dan Rescue Equipment. Adapun jumlah pengunjung (potensial visitor) yang ditargetkan oleh penyelenggara sebanyak 10.000 pengunjung. TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO (TRIBUNNEWS.COM/TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO)

Alasannya pemeriksaan tes cepat atau rapid test kurang maksimal karena hanya pemeriksaan antibodi saja tidak pemeriksaan diagnostik yang lebih detil.

"Saat ini hasil rapid tet belum masuk ke pemeriksaan diagnostik. Apalagi rapid test yang dilakukan antibody, bukan antigen yang lebih baik," kata dr. Syahrizal.

Kemudian penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) belun tegas diterapkan dan belum bersangsi denda sesuai peraturan.

Update Corona Global 1 Mei 2020: Tembus 3,3 Juta Kasus, Ini Daftar 10 Negara dengan Kasus Terbanyak

Terlebih penerapan di luar Pulau Jawa yang harus mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah

"Langkah penerapan bervariasi antar wilayah yg menerapkan PSBB- terutama Jawa dan luar Jawa. Jadi bisa saja Jakarta Juni transmisi rendah- namun luar jawa bisa masih tinggi," ucap dr. Syahrizal.

Jika perhatian PSBB dari pemerintah semakin tegas dan terbentuk satgas covid-19 hingga ke tingkat RT, RW, dan Desa sehingga masyarakat bisa menerapkan pembatasan gerak dan menjaga jarak barulah memungkinkan corona berakhir di bulan Juni.

"Adanya satgas covid-19 ini bisa mengurangi kemungkinan orang sehat tertular covid-19," kata dr. Syahrizal.

Kemudian Syahrizal juga menyarankan agar para pasien status Orang Dalam Pemantuan (ODP) juga dikarantina di tempat khusus seperti pasien PDP dan pasien suspect untuk menghindari penularan virus corona.

"Melakukan karantina ODP di tempat khusus juga penting - jangan diminta karantina di rumah karena dapat menularkan ke keluarganya. Jika hal-hal ini bisa kita lakukan, kita bisa diyakinkan Juni akan menurun," pungkas dr. Syahrizal.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Pakar Epidemiologi UI Ragukan Prediksi Covid-19 Berakhir Pada Juni 2020, 

Editor: Lita Andari Susanti
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved