Pandemi Virus Corona, Guru Besar UI: Efek Polusi Udara Perparah Risiko Kematian akibat Covid-19

Polusi udara bisa berkontribusi terhadap penurunan sistem imunitas tubuh yang cenderung membuat mudah terpapar virus.

KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO
ILUSTRASI -- Polusi udara terlihat di langit Jakarta, Senin (3/9/2018). Menurut pantauan kualitas udara yang dilakukan Greenpeace, selama Januari hingga Juni 2017, kualitas udara di Jabodetabek terindikasi memasuki level tidak sehat (unhealthy) bagi manusia. 

TRIBUNPALU.COM - Efek polusi udara dapat memperparah risiko kematian di tengah pandemi virus corona Covid-19.

Hal ini dijelaskan oleh Guru Besar Universitas Indonesia dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Prof. Dr. Budi Haryanto, SKM, M.Kes, M.Sc. 

"Dari hasil penelitian efek polusi udara ternyata 60 persennya lebih concern pada dampak kesehatan, jadi dampak lainnya itu sisanya," kata Prof Budi dalam diskusi virtual yang dihelat YLKI, Sabtu (27/6/2020).

Menurutnya, polusi udara bisa berkontribusi terhadap penurunan sistem imunitas tubuh yang cenderung membuat mudah terpapar virus.

Dalam penelitiannya masyarakat di Tangerang sebanyak 21 persen mengalami ketidaknormalan fungsi paru akibat polusi udara, bahkan di Makassar mencapai 24 persen.

Dubes RI untuk Turki: Salat Jumat di Turki Harus Pakai Masker, Khotbah Cuma Lima Menit

Kesembuhan Pasien Covid-19 Paling Kritis di Vietnam Jadi Sorotan, Perawat Akui Rasakan Tekanan Media

Meski Belum Ada KLB akibat Kontaminasi Bakteri, Masyarakat Diimbau Setop Konsumsi Jamur Enoki

"Ini sampel yang kita ambil cukup besar sehingga sudah representatif. Kita perlu ingat bahwa paru-paru yang sudah rusak itu tidak akan bisa menjadi normal kembali," tuturnya.

Dia menerangkan penyebab rusaknya paru-paru itu karena terlalu lama menghirup polusi yang mengandung chemical, bisa jadi berbulan-bulan hingga puluhan tahun.

"Di Jakarta Timur dalam hasil studi KLHK ketidaknormalan fungsi paru sebanyak 23 persen. Hal ini juga terjadi kepada anak-anak dengan kategori penyakit ispa (infeksi saluran pernapasan) selama sembilan hari sekali dalam tiga bulan," terangnya.

Prof Budi mengambil contoh kasus lainnya seperti terjadi di Filipina dan India yang di mana banyak orang rentan meninggal karena Covid-19 akibat penyakit bawaan yang disebabkan polusi udara.

Berdasarkan Studi Harvard, lanjutnya, NEJM April 2020 menuliskan risiko kematian pasien Covid-19 4,5 kali lebih banyak di wilayah polusi PM2,5.

Halaman
12
Editor: Rizkianingtyas Tiarasari
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved