Breaking News:

Berpotensi Jadi Pandemi, Pakar Sebut Virus Flu Babi G4 Cukup Berbahaya

Pakar menyebutkan bahwa virus G4 EA H1N1 yang muncul di China ini sangat berbahaya.

Istimewa
Babi 

TRIBUNPALU.COM - Sebuah studi yang dipublikasikan secara online dalam prosiding jurnal Akademi Sains Nasional, melakukan penelitian terhadap hewan babi di 10 provinsi di China mulai 2011 sampai 2018.

Dalam 3 tahun terakhir, peneliti telah mengumpulkan 338 sampel darah dari para pekerja dari 15 peternakan babi dan 230 dari orang-orang di lingkungan peternakan.

Studi atau penelitian itu sudah dikirim untuk ditinjau pada awal Desember 2019, beberapa pekan sebelum wabah virus corona meruak di Wuhan, Provinsi Hubei, China dan menjadi wabah global.

Direktur Divisi Penyakit Infeksi Pediatrik di Rumah Sakit Universitas Nasional Taiwan, Li-Min Huang mengatakan bahwa langkah krusial selanjutnya adalah menemukan para pekerja yang terinfeksi dari peternakan babi yang mengalami penularan infeksi dari manusia.

Corona Belum Usai, Muncul Virus Baru di China yang Berasal dari Babi, Mirip Flu Babi

Termasuk apakah mereka telah menulari virus itu ke keluarga mereka.

"Ini merupakan penelitian yang penting, dan virusnya juga tampak cukup berbahaya," ujar Dr Huang, "Kita perlu khawatir terhadap penyakit apa pun yang berpotensi menyebar dari manusia ke manusia."

Penelitian menemukan bahwa sebanyak 10.4 persen dari pekerja dan 4.4 persen lainnya yang positif terinfeksi G4 EA H1N1 dan bahwa para pekerja di antara 18-35 tahun terinfeksi dalam rasio lebih tinggi, 20.5 persen.

Sementara itu menurut Dr Ian H Brown, kepala departemen virologi di Organisasi Kesehatan Hewan dan Tanaman Inggris mengatakan bahwa memprediksi risiko bukanlah suatu ilmu pasti namun dia menyarankan untuk waspada terhadap virus.

Pernyataan Dr Brown juga didukung oleh salah satu dari 2 ilmuwan yang meninjau penelitian tersebut sebelum diterbitkan.

"Mungkin virus itu bisa berubah lebih lanjut menjadi lebih agresif pada manusia seperti yang dilakukan Sars-Cov-2 (virus corona)," ujar Dr Brown dalam sebuah e-mail kepada The New York Post pada Selasa (30/6/2020).

Halaman
12
Editor: Lita Andari Susanti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved