Update Korban Banjir Bandang dan Longsor NTT: 138 Orang Dilaporkan Tewas, 61 Orang Hilang

Sebanyak 138 orang dilaporkan tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor di NTT. Kini BNPB menurunkan 6 helikopter guna proses evakuasi korban.

Handover
ILUSTRASI - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo sedang menggelar konferensi pers terkait perkembangan bencana banjir dan tanah longsor di NTT, Rabu (7/4/2021). 

Faktor cuaca di NTT yang hingga saat ini masih belum normal juga merupakan penyebab terhambatnya pencarian dan evakuasi korban.

"Khusus untuk daerah terisolir dibeberapa lokasi akan kami optimalkan untuk melibatkan helikopter karena cuaca masih mengalami perubahan," sambung Doni.

Doni menyebut wilayah yang terisolir seperti Malaka, Pulau Adonora, pulau Alor dan beberapa daerah lain.

Untuk empat helikopter sudah dikerahkan di beberapa lokasi, dua helikopter di kawasan Maumere serta masing-masing satu unit untuk wilayah Kota Kupang dan Sumba.

Kondisi Terkini Flores Timur Nusa Tenggara Timur Pasca Banjir Bandang, Cari Korban Hilang

Bencana banjir bandang di Waiwerang Pulau Adonara, Floers Timur - NTT
Bencana banjir bandang di Waiwerang Pulau Adonara, Floers Timur - NTT (Handover)

Sementara itu untuk dua unit helikopter akan diturunkan hari ini.

"Dua unit lagi sedang proses dan diharapkan besok (Kamis 8 April) tiba," ucapnya.

Pada Rabu kemarin, Doni seharusnya dijadwalkan tiba di Pulau Adonara.

Namun dikarenakan cuaca yang buruk, penjadwalan itu dibatalkan.

Di kawasan Larantuka dan beberapa wilayah di Flores Timur masih memiliki curah hujan yang tinggi, sehingga penerbangan menggunakan helikopter tidak bisa ditempuh.

"Tidak bisa terbang karena hujan lebat di Larantuka dan cuaca berkabut di sekitar Adonara jadi hari ini praktis penerbangan helikopter mengalami hambatan," katanya dalam konferensi pers virtual itu.

Tak hanya itu saja, bahkan hingga kini pihak BNPB masih terkendala saat melakukan proses evakuasi jenazah korban di sejumlah daerah, seperti Lembata dan Alor.

"Kami kesulitan untuk memobilisasi alat berat eskavator dan juga truk untuk mengangkut batu-batu yang sangat besar," pungkasnya.

Mobil dan alat transportasi berat mengalami kesulitan saat memasuki dua wilayah tersebut, yang juga merupakan daerah dengan jumlah korban meninggal paling banyak.

(TribunPalu.com/Hakim)

Sumber: Tribun Palu
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved