Pilpres 2024
Jika Bergabung di Pilpres 2024, Jokowi-Prabowo Diprediksi Hanya Hadapi Kotak Kosong
M Qodari menilai Jokowi dan Prabowo Subianto kemungkinan besar bakal menghadapi kotak kosong bilang bergabung di Pilpres 2024 mendatang.
TRIBUNPALU.COM - Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menilai Jokowi Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto kemungkinan besar bakal menghadapi kotak kosong bilang bergabung di Pilpres 2024 mendatang.
Tak hanya itu, Qodari yakin dukungan masyarakat akan sangat kuat terhadap pasangan Jokowi-Prabowo.
Hal tersebut disampaikan Qodari menanggapi hasil survei capres Litbang Kompas yang memperlihatkan nama Jokowi dan Prabowo sebagai dua tokoh dengan elektabilitas tertinggi saat ini.
Menurut Qodari, melalui pertanyaan terbuka yang ditanyakan langsung kepada masyarakat, hasilnya membuktikan bahwa kepemimpinan Republik Indonesia ke depan dalam imajinasi politik masyarakat Indonesia masih pada dua nama yaitu Jokowi dan Prabowo.
“Senang sekali dengan hasil survei ini, karenakan survei ini membuktikan statemen saya, kepercayaan saya, bahwa imajinasi politik masyarakat Indonesia tentang pemimpin Republik itu yang tepat memimpin Republik ini masih pada dua nama yaitu Pak Jokowi dan Pak Prabowo,” kata Qodari saat dikonfirmasi, Rabu (5/5/2021).
Baca juga: Pemerintah Arab Saudi Rilis Foto Hajar Aswad Beresolusi Tinggi, Intip Penampakannya Lebih Dekat
Baca juga: BMKG: Prakiraan Cuaca Besok Kamis 6 Mei 2021 di Sulteng: Palu Berawan, Salakan Hujan Petir
Baca juga: Bappeda Sulteng: Pertumbuhan Ekonomi Meningkat, Begitu Juga Kemiskinan
Diketahui, berdasarkan hasil survei sebanyak 24 persen masyarakat Indonesia diprediksi akan kembali memilih Joko Widodo untuk menjadi Presiden, disusul Prabowo Subianto sebesar 16,4 persen dan Anies Baswedan 10 persen.
Sementara, delapan nama lainnya memiliki elektabilitas di bawah 10 persen yakni Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (7,3 persen), Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama (3,1 persen), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno (3,3 persen).
Mekipun nama Jokowi dan Prabowo di puncak survei, Qodari menjelaskan bahwa konstitusi sekarang, jabatan Presiden dibatasi hanya dua periode saja, akan tetapi kalau diadakan amandemen UUD 1945 presiden diperbolehkan menjabat 3 periode.
Qodari menyebut Presiden Jokowi berpeluang terpilih kembali.
“Akan tetapi kalau misalnya bisa diadakan perubahan menjadi 3 periode maka yang akan paling kuat tetap Pak Jokowi,” ungkapnya.
Qodari membayangkan, bila Jokowi dan Prabowo bergabung dengan didukung mayoritas partai politik pada 2024 mendatang, maka kemungkinan besar pasangan ini akan berhadapan dengan kotak kosong dan akan menuai dukungan dari masyarakat yang sangat kuat untuk kepemimpinan nasional.
“Pasangan ini bukan hanya berhadapan kemungkinan besar dengan kotak kosong karena partai-partai kemudian bersikap realistis, tapi juga kemudian dukungan masyarakat itu akan sangat kuat kepada kepemimpinan nasional, karena memang mereka (Jokowi dan Prabowo) ada di hatinya masyarakat,” kata Qodari.
Baca juga: Peringatan Dini Cuaca Ekstrem BMKG, Rabu 5 Mei 2021: Waspada Hujan Lebat di Sumbar dan Sulteng
Baca juga: Sosok CEO Air Super Jet Ari Azhari, Maskapai Baru Murah dan Sasar Milenial
Baca juga: Polres Palu Kerahkan 130 Personel Jelang Perayaan Idulfitri 2021, Tersebar di 11 Pos Penjagaan
Qodari menyarankan partai politik harus memperhatikan dan mempertimbangkan siapa yang ada di hati dan kepala masyarakat.
Apa yang mereka inginkan jangan sampai diabaikan.
Kalau masyarakat Indonesia menghendaki Jokowi dan Prabowo, maka bukalah pintu perubahan amandemen UUD 1945 untuk memberikan jalan kedua putra terbaik bangsa itu maju.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/menteri-pertahanan-prabowo-subianto-mendapat-ucapan-selamat-dari-presiden-ri-joko-widodo.jpg)