Terorisme MIT Poso
Cerita Sahabat Eks Pimpinan MIT Poso Santoso, Dikenal Humoris dan Suka Bercanda
Santoso diketahui kerap melakukan aksi terorisme sebelum akhirnya tewas dalam kontak tembak dengan Satgas Tinombala di Pegunungan Ambarana Poso
Laporan Wartawan TribunPalu.com, Fandy Ahmat
TRIBUNPALU.COM, PALU - Eks Pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso tentu menjadi sosok tak asing bagi masyarakat Indonesia, khususnya Sulawesi Tengah.
Pria kelahiran 1976 itu disebut-sebut teroris paling berbahaya hingga aparat harus bekerja ekstra untuk menangkapnya.
Santoso diketahui kerap melakukan aksi terorisme sebelum akhirnya tewas dalam kontak tembak dengan Satgas Tinombala di Pegunungan Ambarana Poso pada 18 Juli 2016.
Kepada TribunPalu.com, sahabat Santoso, Harun Nyak Itam Abu, menceritakan kepribadian pria berjenggot tersebut.
Dosen Fakultas Hukum Universitas Tadulako itu mengenal Santoso sangat dekat, terutama pascaterjadinya konflik Poso di awal-awal tahun 2000.
Harun mengatakan, Santoso merupakan pemuda yang terlibat langsung ketika terjadi konflik Poso 1998 hingga 2001.
Baca juga: Tokoh Lintas Agama Poso Dorong BNPT Berantas Kelompok MIT
Baca juga: Polda Sulteng Sebut Belum Ada Tanda MIT Poso Menyerahkan Diri, Bahkan Kelompoknya Sudah Terbagi Dua
Dalam peristiwa nahas itu, banyak anggota keluarga maupun kerabat Santoso menjadi korban.
Namun di hadapan Harun, Santoso seolah tak ingin mengungkit tentang tragedi kerusuhan di Poso.
Sekalipun Harun mengetahui pasti bahwa sahabatnya itu tidak bisa melupakan peristiwa tersebut.
"Santoso orangnya sangat humoris, suka bercanda. Setiap kali bertemu, dia tak pernah mengungkapkan apapun tentang masa lampau," kata Harun kepada TribunPalu.com, Minggu (30/5/2021).
"Dia itu orangnya periang dan lucu. Pernah dia ingin menelepon kawan laki-laki, tetapi dia heran kok yang jawab suara perempuan. Cuma saya lupa, saat itu antara telepon temannya tidak aktif atau dianya kehabisan pulsa," ujarnya menambahkan.
Harun tak lagi bertemu dan mengetahui kabar Santoso sejak kasus penembakan di depan Kantor Bank Central Asia (BCA) Kota Palu 2011.
Baca juga: Begini Cerita Korban Selamat dari Pembantaian Kelompok MIT di Poso
Saat itu, Santoso diduga menjadi otak penembakan bersama pelaku lainnya Aryanto Haluta alias Abu Jafar.
Menurut Harun, ada beberapa sebab mengapa Santoso menjadi sedemikian berang hingga melakukan aksi terorisme.
Pertama, Santoso berharap agar pelaku pembunuhan terhadap anggota keluarganya ditangkap dan diadili.
Kedua, banyak teman Santoso dianiaya bahkan harus meregang nyawa akibat tindakan oknum aparat keamanan pascakonflik di Poso.
Pengakuan Santoso, kata Harun, mereka bukan pelaku kriminal, bukan teroris dan bukan pula yang termasuk daftar pencairan orang (DPO).
Dikutip dari Wikipedia, Santoso juga dikenal dengan nama Abu Wardah lahir di Tentena, 21 Agustus 1976 dan meninggal di Tambarana, 18 Juli 2016 pada umur 39 tahun.
Sebelum kematiannya, dia merupakan sosok teroris yang paling dicari di Indonesia.
Baca juga: Detik-detik Pembantaian 4 Warga di Kalemago Poso, 1 Jasad Pekebun Ditemukan Tanpa Kepala
Di bawah kepemimpinannya, MIT telah bersumpah setia kepada Negara Islam Irak dan Syam (ISIS).
Santoso bersama kelompoknya beroperasi di hutan belantara Kabupaten Poso dan Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Pada tanggal 18 Juli 2016, Santoso tewas dalam sebuah kontak tembak dengan petugas Satgas Operasi Tinombala.
Setelah Santoso meninggal, pemimpin kelompok MIT adalah Ali Kalora.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/dosen-fakultas-hukum-harun-nyak-itam-abu.jpg)