Sulteng Hari Ini

Cerita Malonge, Sarjana Pertama dari Komunitas Adat Terpencil Loinang Banggai

Sejak kecil, pria kelahiran 5 September 1996 ini harus berpisah dengan orangtua dan saudaranya.

Penulis: Asnawi Zikri | Editor: mahyuddin
TRIBUNPALU.COM/NAWI
Malonge (25), pemuda asli dari Komunitas Adat Terpencil Loinang di Dusun Tombiobong, Desa Maelo Jaya, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Senin (31/5/2021). 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Asnawi Zikri

TRIBUNPALU.COM, BANGGAI - Komunitas Adat Terpencil Loinang di Dusun Tombiobong, Desa Maelo Jaya, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, hidup dalam keterbatasan.

Pendidikan dan kesehatan sulit dijangkau, belum lagi  jalan yang rusak dan jembatan gantung yang bisa saja mengancam keselamatan.

Namun keterbatasan ini tidak menjadi penghalang bagi Malonge (25), pemuda asli dari Komunitas Adat Terpencil Loinang.

Sejak kecil, pria kelahiran 5 September 1996 ini harus berpisah dengan orangtua dan saudaranya.

Baca juga: Perusahaan Hulu Migas JOB Tomori Sentuh Komunitas Adat Terpencil di Banggai

Baca juga: Sidak Kantor Lurah Bayaoge Palu, Hadianto Rasyid Temukan Pelanggaran Berat Ini

Di usianya yang baru 6 tahun, Malonge sudah keluar kampung untuk menuntut ilmu.

Anak ke 4 dari 6 bersaudara itu mengikuti orangtua angkatnya Zakaria Madaa di Kecamatan Kintom, Kabupaten Banggai.

“Saya sekolah dari SD sampai SMA di Kintom. Bapak angkat saya Zakaria Madaa. Beliau yang sekolahkan saya,” tutur Malonge kepada TribunPalu.com di sela-sela pelaksanaan program pemberdayaan perusahaan hulu Migas JOB Tomori di Dusun Tombiobong Desa Maleo Jaya, Minggu (30/5/2021).    

Di usianya yang masih belia, Malonge bercerita tidak ada fasilitas pendidikan dan kesehatan, begitupun jalan dan jembatan.

Sangat terisolir, apalagi saat diguyur hujan maka tidak ada satupun yang berani menyebrang sungai menuju desa induk Maleo Jaya.

“Sangat sangat terbatas kala itu,” kata Malonge.

Nanti tiga tahun terakhir barulah ada terlihat pembangunan, baik itu fasilitas kesehatan, pendidikan dan jembatan gantung.

Dusun Tombiobong dihuni 32 kepala keluarga, 29 keluarga di antaranya adalah Komunitas Adat Terpencil Loinang.

Fasilitas yang tersedia di bidang pendidikan baru sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), itupun masih serba terbatas dari sisi sumber daya pengajar dan sarana prasarana.

Baca juga: Terhempas oleh Ombak Saat Berfoto, 2 Wisatawan di Malang Jatuh dari Tebing Ketinggian 15 Meter

Baca juga: Apakah Kotoran Cicak Itu Najis? Simak Penjelasan Ulama Berikut Ini

Sekolah PAUD ini berkat kolaborasi antara JOB Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi (JOB Tomori) dan Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Banggai.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved