Polisi Gerebek Pesta Sabu Malah Diteriaki Rampok, Warga Berdatangan Bawa Parang dan Katana
Situasi memanas ketika rombongan polisi yang melakukan penggerebekan pesta sabu malah diteriaki rampok.
“Karena ini berpotensi merusak generasi muda Desa Tebing abang dan sekitarnya, mendapatkan informasi tersebut kami langsung melakukan Penyelidikan, dari penyelidikan yang kami lakukan ternyata Informasi tersebut memang benar adanya."
Lalu pada hari Sabtu (29/05/2021) sekitar pukul 19.00 Wib, polisi lakukan penggerebekan terhadap pondok tersebut.
Dikatakan Jatrat, pada saat penggerebekan tersebut, pihaknya melihat di dalam pondok tersebut terdapat empat orang laki-laki sedang mengonsumsi narkotika jenis sabu.
Pada saat penangkapan, tiga orang berhasil melarikan diri dengan cara berlari ke dalam kebun karet dan satu orang berhasil diamankan.
“Di lokasi kejadian tidak ada perempuan, hanya 4 orang laki, dimana 3 orang berhasil kabur dan 1 orang tertangkap. Saat diamankan dan ditanya petugas kepolisian, orang yang tertangkap tersebut mengaku seorang jurnalis berinisial RP dan saat diamankan yang bersangkutan tidak melakukan perlawanan,” ungkapnya.
Menurut Jatrat, dari penggeledahan di dalam pondok tersebut, ditemukan barang bukti berupa dua buah pirek kaca yang masih terdapat sisa narkotika diduga sabu, dua alat isab sabu, tujuh pirek kaca kosong, sepuluh jarum, parang.
"Kemudian RP, berikut barang bukti kami bawa keluar dari kebun menuju jalan utama (pemukim warga) berjarak sekitar 200 meter dengan berjalan kaki," kata dia.
"Dalam perjalanan keluar dari kebun tersebut, kami diadang oleh dua orang laki laki yang membawa pedang samurai sambil berteriak agar warga Tebing Abang keluar dan menutup jalan," imbuhnya.
"Kemudian kedua orang tersebut kami ajak negosiasi dan pedang samurai yang mereka bawa berhasil kami amankan,” jelasnya.
Setelah itu, lanjut Jatrat, pihaknya melanjutkan perjalanan keluar dari kebun karet tersebut.
Sesampainya di jalan utama (pemukiman warga), ternyata pihaknya telah ditunggu oleh warga dengan membawa senjata tajam jenis parang dan pedang samurai.
Seorang berinisial AS berteriak bahwa rombongan kepolisian adalah rampok. AS juga berteriak agar semua warga Desa Tebing Abang keluar menghadang jalan.
Melihat hal tersebut, RP langsung berontak dan berteriak-teriak memanaskan suasana kalau dirinya dianiaya.
“Warga yang mendengar teriakan itu membuat situasi jadi memanas, kemudian kami melakukan negosiasi untuk meredakan suasana," kata dia.
"Dikarenakan situasi malam hari dan akses jalan keluar masuk hanya satu jalan, serta situasi tidak kondusif dan kalah jumlah, akhirnya kami keluar dari desa Tebing Abang dengan tidak membawa saudara RP,” jelasnya.