Apa Itu Fenomena Panic Buying? Simak Pengertiannya Menurut Ahli

Selama masa pandemi Covid-19 di Indonesia, muncul sejumlah fenomena panic buying dari masyarakat. Lantas, apa itu panic buying?

Tangkap Layar Twitter/ezash
Fenomena Panic Buying - Tangkapan layar video saat sejumlah pembeli berebut ingin membeli susu di supermarket 

Dikatakannya, panic buying biasanya akan berhubungan dengan kebutuhan ekonomi.

Ia mencontohkan, momen reformasi 1998, di mana nilai tukar rupiah tidak stabil.

Lalu, banyak masyarakat memborong kebutuhan pokok, sebelum harganya melonjak tinggi.

Sistem yang Tidak Berjalan Normal

Panic buying juga bisa dipicu karena adanya sistem tatanan kehidupan yang tidak berjalan normal, seperti di masa pandemi ini,

Baik, itu  ekonomi, kesehatan, atau pun sosial.

Seperti, fenomena warga memborong susu beruang hingga obat Covid-19.

"Susu atau produk lain, seperti obat cacing, itu terjadi karena sistem pendukung kesehatan sudah tidak mampu berjalan lagi dengan normal (gagal)."

"Masyarakat melihat RS penuh, RS hanya akan menerima ketika seseorang sudah sakit parah."

"Untuk mengatasi kegagalan sistem itu, seseorang harus membuat jaring pengaman saya sendiri," katanya.

Sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Drajat Tri Kartono.
Sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Drajat Tri Kartono. (Istimewa)

Informasi Negatif

Sisi lain, kata Drajat, panic buying bisa timbul karena beredar informasi negatif di tengah masyarakat.

Di mana, tindakan memborong dalam waktu pendek itu akan menyebabkan barang menjadi langka.

Sehingga, antara permintaan dengan pasokan tidak seimbang.

"Informasi negatif dalam arti bukan kejelekan, tapi yang memprovokasi ini muncul."

Halaman
123
Sumber: Tribunnews.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved