Masa Lalu Moeldoko Dibongkar Herzaky, Sebut Pernah Bikin SBY karena Pesan Tak Penting Ini
Masa lalu Moeldoko saat masih menjadi bawahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dibongkar oleh Herzaky Mahendra Putra.
TRIBUNPALU.COM - Masa lalu Moeldoko saat masih menjadi bawahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dibongkar oleh Herzaky Mahendra Putra.
Seperti diketahui polemik yang terjadi antara Demokrat kubu AHY dan kubu Moeldoko masih belum menemukan titik terang.
Bahkan kini polemiknya semakin memanas.
Baru-baru ini Herzaky Mahendra Putra, kubu AHY ini menyatakan siap melawan Moeldoko cs.
"Kami perlu melakukan perlawanan terhadap mereka, yang menggunakan Pangkat, Jabatan, dan Gelar Akademiknya, untuk membodohi publik." demikian tulis Herzaky dalam rilisnya, Minggu (3/10/2021).
Baca juga: Upayanya Bela Moeldoko Dinilai Sia-sia, Yusril Mahendra: Pak Mahfud Pikirannya Ini Mau Dongkel AhY
Baca juga: Ucapan Jokowi saat Tolak KLB Demokrat Kubu Moeldoko Dibongkar Mahfud MD: Meskipun Dia Teman Kita
Herzaky menyatakan, hanya ada satu kepengurusan Partai Demokrat, yang sah dan diakui Pemerintah, "Tidak Ada Dualisme".
Herzaky juga menyebut masa lalu Moeldoko yang pernah jadi bawahan SBY dan berambisi jadi presiden.
Berikut pernyataan Herzaky soal masa lalu Moeldoko:
1. Konstruksi besar dari persoalan yang terjadi di Partai Demokrat ini, dimulai dari ambisi seorang KSP bernama Moeldoko, yang ingin sekali menjadi Presiden. KSP Moeldoko adalah seorang petualang politik, sejak beliau melakukan Operasi Sajadah ketika menjadi Pangdam III Siliwangi. Lalu dimasukan kotak menjadi Wagub Lemhannas.
Sedangkan ambisi menjadi Presiden ini, pertama kali muncul pada 2014. Ada seorang pengusaha nasional yang menghadap Presiden SBY dan meminta restu Pak SBY, agar PD mengusung Moeldoko sebagai Calon Presiden. KSP Moeldoko saat itu masih perwira aktif dan baru saja diangkat menjadi Panglima TNI.
2. Pada bulan Mei 2015, pagi-pagi sekali dengan menggunakan seragam dinas Panglima TNI, Moeldoko datang ke Cikeas. Hari itu, Pak SBY akan berangkat ke Surabaya untuk melakukan Kongres Partai Demokrat. Pak SBY berpikir, tentulah ada sesuatu yang sangat penting dan mendesak, atau darurat, seorang Panglima TNI aktif dengan seragam dinas, menghadapseorang mantan Presiden, mantan Panglima Tertinggi, pada pagi-pagi hari sekali. Ternyata, pesannya tidak sepenting dan semendesak yang diduga.

Moeldoko hanya mengatakan: “Pak, tolong kalau Bapak terpilih lagi sebagai Ketua Umum, agar Bapak mengangkat Marzuki Alie sebagai Sekjen nya.” Pak SBY marah. Beliau marah, bukan saja karena Moeldoko yang adalah Panglima TNI aktif telah melanggar konstitusi dan undang-undang dengan melakukan politik praktis dan intervensi, tetapi beliau juga marah karena sebagai salah satu penggagas dan pelaksana reformasi TNI, pak SBY tidak rela TNI dikotori oleh ambisi pribadi yang ingin berkuasa dengan cara-cara yang melanggar aturan dan hukum.
3. Setelah pensiun dari TNI, Moeldoko datang lagi ke Cikeas. Meminta jabatan tinggi di kepengurusan Partai Demokrat. Pak SBY sampaikan, kalau gabung dengan PD beliau mempersilakan. Kalau soal jabatan Ketua Umum, itu ada mekanismenya melalui Kongres.
4. Tak puas dengan jawaban itu, KSP Moeldoko berusaha untuk menjadi Ketua Umum pada partai-partai lainnya. Bahkan, salah satu mantan Wakil Presiden bercerita, beliau didatangi oleh KSP Moeldoko dan meminta dukungan untuk KSP Moeldoko bisa menjadi Ketua Umum di salah satu Partai Politik. Lagi-lagi mantan Wakil Presiden ini juga menolaknya halus. Beliau katakan, untuk menjadi Ketua Umum itu ada mekanismenya melalui Kongres.
5. Memang soal kemampuan politik praktis, KSP Moeldoko ini agak diragukan kapasitasnya. Jangankan menjadi Ketua Umum Partai Politik, menjadi Ketua Umum PSSI saja kalah. Buktinya, beliau dikalahkan oleh yunior empat tahun dibawahnya, yakni pak Edy Rahmayadi, yang sekarang menjadi Gubernur Sumatera Utara.