Selasa, 21 April 2026

100 Hari Taliban Berkuasa, Kini Terdengar Jeritan Warga Afghanistan: Tak Ada Lagi Masa Depan

Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan usai militer Amerika Serikat hengkang dari negara tersebut.

Kompas.com Via AP
Kekacauan di bandara Kabul. Warga Afghanistan dan Amerika Serikat berbondong-bondong menuju bandara setelah Taliban mengklaim telah menguasai Kota Kabul. 

TRIBUNPALU.COM - Kurang lebih, 100 hari sudah Taliban berkuasa di Afghanistan.

Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan usai militer Amerika Serikat hengkang dari negara tersebut.

Lantas bagaimana keadaan Afghanistan kini di bawah kekuasaan Taliban?

Pertanyaan tersebut coba dijawab jurnalis BBC, Yalda Hakim.

Ia lahir di Afghanistan. Tapi keluarganya melarikan diri di masa pendudukan Uni Soviet tahun 1980-an.

Sekarang dia kembali ke Afghanistan untuk pertama kalinya, setelah Taliban merebut kekuasaan 100 hari yang lalu, berikut laporannya melansir BBC.

Baca juga: Sejarah Hari Guru Nasional, Diperingati Setiap 25 November, Dimulai Era Perjuangan Melawan Belanda

Saya menyadari bahwa kepulangan pertama saya ke negara kelahiran sejak Taliban berkuasa pada Agustus lalu, akan membuat saya bertanya-tanya.

Seberapa jauh negara ini telah berubah sejak Taliban menggulingkan pemerintahan yang didukung Barat? Akankah masyarakat Afghanistan mendapatkan kedamaian yang mereka dambakan?

Seperti apa masa depan perempuan dan anak perempuan Afghanistan yang sudah disingkirkan dari kehidupan publik oleh penguasa baru mereka?

Ada sebuah pertanyaan, yang saya tidak berharap akan menanyakannya kepada diri sendiri.

Yakni, kekuatan seperti apa yang dibutuhkan untuk tetap pergi bekerja, hari demi hari, pekan demi pekan, bulan demi bulan yang semakin menyiksa, meski tanpa dibayar?

Tetapi, itu lah yang saya temukan. Dari petugas kesehatan di Kandahar hingga petugas kebersihan di rumah sakit Kabul, tidak ada petugas kesehatan publik di Afghanistan yang digaji sejak pemerintah jatuh dan bantuan asing terhenti.

Terlepas dari situasi itu, mereka masih datang bekerja, merawat masyarakat yang semakin putus asa di saat mereka sendiri semakin terpojok ke tepi jurang.

Nasreen bekerja sebagai petugas kebersihan di Rumah Sakit Anak Indira Gandhi di Kabul.

"Jika kami tidak bekerja, bayi-bayi ini akan meninggal, bagaimana mungkin kami bisa meninggalkan mereka?" kata Nasreen kepada saya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved