Buaya di Sungai Palu
Buaya Sering 'Main' ke Pantai Palu, Pengamat Duga Tempat Bertelur Hancur Akibat Gempa
Maraknya aktivitas Buaya di laut hingga memakan korban jiwa ini mendapat perhatian dari pengamat satwa dari Universitas Tadulako (Untad).
Laporan Wartawan TribunPalu.com, Fandy Ahmat
TRIBUNPALU.COM, PALU - Warga Kota Palu dan sekitarnya diresahkan agresi Buaya khususnya di wilayah pantai.
Bahkan, seorang warga menjadi korban terkaman Buaya di tepi pantai Kelurahan Mamboro, Kota Palu, 28 April 2022.
Kejadian serupa juga dialami seorang warga Desa Lolu Saluran, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala.
Korban bernama Asli tewas usai diterkam sang predator saat memanah ikan di kawasan Pelabuhan Pelelangan Ikan (PPI) Donggala, Sabtu (7/5/2022) lalu.
Maraknya aktivitas Buaya di laut hingga memakan korban jiwa ini mendapat perhatian dari pengamat satwa dari Universitas Tadulako (Untad).
Baca juga: Jaga Kesehatan Ginjal Anda dengan Konsumsi Bahan Alami: Ketumbar hingga Minyak Ziatun
Golar menilai, kejadian tersebut tidak terlepas dari terganggunya keseimbangan ekosistem Buaya.
Dekan Fakultas Kehutanan Untad itu menduga habitat asli Buaya rusak akibat bencana pada 2018.
Pasalnya, Kota Palu dan Donggala pernah dilanda gempa magnitudo 7,4 kemudian disusul gelombang tsunami.
"Dugaan kami, lubang-lubang tempat tinggal dan bertelur buaya telah hancur akibat gempa dan tsunami sehingga Buaya lebih sering menjelajah jauh dari habitatnya," ujar Golar, Selasa (10/5/2022).
Di sisi lain, kata Golar, belum ada data riil mengenai daya dukung lingkungan ekosistem Buaya khususnya di Kota Palu.
Hal tersebut dinilai turut menyulitkan upaya pengendalian polulasi dan strategi pembiakan, serta penyebaran Buaya agar tidak bersinggungan dengan aktivitas manusia.
Baca juga: Warga Rayakan Lebaran Ketupat di Nuhon Banggai, Furqanuddin Masulili Hadir
Golar menambahkan, masalah Buaya ini tentu bisa berdampak terhadap sektor wisata khususnya yang berbasis pantai.
Sehingga ia mengajak seluruh stakeholder untuk bersama-sama menangani persoalan tersebut tanpa membebankan hanya kepada pihak tertentu.
"Penanganan masalah konflik antara manusia dengan buaya ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA). Semua perlu dilakukan secara kolaboratif, baik BKSDA, Pemda, perguruan tinggi dan stakeholder lainnya," tutur Golar.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Dekan-Fakultas-Kehutanan-Untad.jpg)