Minggu, 12 April 2026

Eropa, NATO dan AS Terus Pasok Senjata ke Ukraina, Bak Paksa Perang Rusia Berlanjut Lama

bagaimana militer Ukraina siap dengan kemampuan mereka mengoperasikan senjata canggih yang terus dipasok beberapa negara eropa, NATO dan Amerika

Menahem KAHANA / AFP
Howitzer sejenis yang dipakai Israel inilah yang dikirim ke Ukraina. Perbedaannya, howitzer untuk Ukraina tidak bersifat mobile seperti jenis ini. Kalibernya sama, berpeluru 155 mm. 

TRIBUNPALU.COM - Konflik antara Rusia vs Ukraina masih memanas hingga kini.

Saat Rusia terus berusaha merangsek masuk, UKraina juga semampunya bertahan dan terus memukul mundur lewat senjata bantuan negara lain.

Ya, kenyataan saat ini, militer Ukraina dibentuk sedemikian rupa agar lebih kuat dengan persediaan senjata yang tak terbatas.

Namun itu tergantung dari bagaimana militer Ukraina siap dengan kemampuan mereka mengoperasikan senjata canggih yang terus dipasok beberapa negara eropa, NATO dan Amerika Serikat.

Lewat bantuan senjata canggih dari negara-negara itu, Ukraina seolah-olah merupakan negara dnegan persediaan senjata yang tak terbatas.

Mereka juga terus diperkuat oleh negara lain. Namun, mirisnya, korban sipil dan militer Ukraina terus terjadi

Kini Ukraina telah mulai menerima rudal anti-kapal Harpoon dari Denmark dan howitzer self-propelled dari Amerika Serikat,

Senjata yang akan mendukung pasukan yang memerangi invasi Rusia, kata Menteri Pertahanan Ukraina Oleksiy Reznikov pada Sabtu.

"Pertahanan pantai negara kita tidak hanya akan diperkuat oleh rudal Harpoon - mereka akan digunakan oleh tim Ukraina yang terlatih," tulis Reznikov di halaman Facebook-nya.

Dia mengatakan rudal pantai-ke-kapal Harpoon akan dioperasikan bersama rudal Neptunus Ukraina untuk mempertahankan pantai, termasuk pelabuhan selatan Odesa.

Serhiy Bratchuk, juru bicara administrasi militer regional Odesa di Ukraina selatan, mengatakan dalam sebuah posting online bahwa "begitu banyak Harpoon telah diserahkan kepada kami sehingga kami dapat menenggelamkan seluruh Armada Laut Hitam Rusia. Mengapa tidak?"

Bulan lalu Moskva, kapal utama armada Laut Hitam Rusia, tenggelam setelah apa yang dikatakan Ukraina sebagai serangan rudal anti-kapal. Moskow mengatakan kebakaran memicu ledakan amunisi.

Setelah meluncurkan invasi ke Ukraina pada 24 Februari, Rusia memberlakukan blokade laut di pelabuhan Ukraina, menghambat ekspor biji-bijian penting.

Ia juga menggunakan armada Laut Hitam untuk meluncurkan serangan rudal.

Reznikov mengatakan Ukraina juga telah menerima berbagai artileri berat, termasuk howitzer self-propelled M109 buatan AS yang dimodifikasi yang akan memungkinkan militer Ukraina untuk menyerang sasaran dari jarak yang lebih jauh.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved