4 Tahun Bencana Sulteng

Ridha Saleh Bantu 100 Sektor Usaha Ultra Mikro di Kota Palu di Momen 4 Tahun Bencana Sulteng

Bertepatan pada peringatan 4 tahun bencana alam, M Ridha Saleh memberikan perhatian khusus kepada pelaku usaha mikro di lapisan terbawah yang sama sek

Penulis: Jolinda Amoreka | Editor: Haqir Muhakir
Handover
Tenaga Ahli Gubernur Sulteng, M Ridha Saleh Ketika Memberikan Bantuan Pada Pedagang Pisang, Rabu (28/9/2022). 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Jolinda Amoreka

TRIBUNPALU.COM, PALU - Bertepatan pada peringatan 4 tahun bencana alam, M Ridha Saleh memberikan perhatian khusus kepada pelaku usaha mikro di lapisan terbawah yang sama sekali tidak bisa disentuh oleh sektor perbankan.

Ridha saleh mempunyai cara unik untuk memperingati hari 4 tahun peringatan bencana alam dengan memberikan bantuan kepada 100 usaha ultra mikro (UMi), pada Rabu (28/9/2022).

Bentuk perhatian yang diberikan adalah dengan memfasilitasi bantuan kepada 100 usaha ultra mikro yang tersebar di beberapa wilayah di Kota Palu.

“Bertepatan pada peringatan 4 tahun bencana alam Sulawesi ini, bantuan didedikasikan untuk meringankan beban sosial, sekaligus menjaga daya tahan bagi sektor usaha ultra mikro yang ada di Kota Palu,” ungkap Ridha Saleh. 

Ia menjelaskan secara garis besar ada lima karakteristik UMi bagi UMKM.

“Pertama, pinjaman dalam jumlah kecil yang ditujukan untuk kegiatan wirausaha dan bukan konsumtif. Kedua, pinjaman hanya untuk masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan, khususnya kepada perempuan dan bagi mereka yang belum memiliki akses terhadap layanan keuangan formal,” tutur Ridha Saleh. 

Baca juga: Menko Airlangga Dorong Peran Penting Reasuradur Menjaga Ketahanan Ekonomi Nasional

Bantuan tersebut disebar ke sektor usaha seperti pedagang garam Talise, penjual kacang dan pisang, kuliner dange, pedagang nasi kuning skala paling kecil serta jenis usaha mikro lainnya.

“Karena memang jumlahnya juga cukup besar di Kota Palu. Mereka inilah yang sama sekali belum bisa difasilitasi perbankan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR),” tambah mantan Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas-HAM) RI itu.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, kendala yang paling sering dihadapi UMKM adalah keterbatasan akses permodalan (51,09 persen), pemasaran produk (34,72 % ), bahan baku (8,59 % ); sumber daya manusia atau pekerja (1,09 % ) transportasi (0,22 % ); dan terakhir lainnya (3,93 % ).

Ridha Saleh menjelaskan dari data tersebut,  kendala yang paling umum dihadapi UMKM di Indonesia adalah terbatasnya akses permodalan. 

Kendala ini terjadi karena persyaratan pengajuan kredit kepada perbankan cukup sulit dipenuhi oleh UMKM di Indonesia.

“Inilah yang kita upayakan, mempermudah para pelaku usaha ini untuk mendapatkan modal tanpa harus memikirkan persyaratan yang berbelit-belit dan rumit. Apalagi di tengah kondisi masyarakat kita yang belum sepenuhnya pulih akibat bencana alam dan pandemi Covid-19,”  tutup pria mantan Deputi Direktur WALHI (2002-2006) itu. (*) 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved