Sulteng Hari Ini
Ritual Nopamada, Upacara Adat Suku Kaili dan Kulawi Sulteng Dampingi Keluarga Hadapi Sakratulmaut
Bagi masyarakat Kaili, momen seperti itu adalah waktu berharga untuk hadir bersama dengan keluarga dan ikut serta menyaksikan jalannya upacara.
Sando membaca mogane (mantra) sembari meremas bagian kepala dengan air yang sebelumnya telah dibacakan mantra-mantra tertentu.
Sementara keluarga dan kerabat akan menyaksikannya dengan tenang.
Dewasa ini, upacara tersebut telah diwarnai dengan peranan agama.
Ketika seseorang mengalami Rilara nuadanga, maka pihak keluarga akan mengadakan pengajian Alquran.
Sementara yang bertugas membisikkan pengajaran atau tuntunan kepada orang yang sekarat tersebut adalah anggota keluarga terdekat atau seorang guru yang dianggap memiliki ilmu agama yang baik.
Kalimat yang dibisikkan ke telinga orang tersebut pada saat Nipotuntuka Ritalinga adalah kalimat tauhid “La ilaha illallah”.
Baca juga: 4 Abad Warga Batui Banggai Lestarikan Ritual Adat Mombowa Tumpe
Sesuai dengan ajaran Islam bahwa siapa yang mampu mengucapkan kalimat tauhid di saat-saat terakhirnya, maka orang tersebut berhak masuk surga.
Inti dari Ritual Nopamada ini adalah mengajarkan atau menuntun orang yang mengalami sakaratul maut dengan suatu petunjuk yang diyakini dapat membuka jalan yang lurus, agar roh dapat keluar dengan tenang pada saat menghembuskan nafas terakhir.
Ajaran tersebut oleh masyarakat Kaili biasa disebut dengan “jalan ngamatea” atau jalan menuju kematian.
Isinya mempelajari tanda-tanda akan datangnya ajal dan jalan yang akan ditempuh roh seseorang menuju alam baka.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Ilustrasi-Sakaratul-Maut.jpg)