HUT RI 2023
Perang Peore, Sejarah Perlawanan Rakyat Poso Terhadap Kolonial Belanda
Kerajaan-kerajaan di Bumi Tadulako menolak tunduk terhadap pemerintahan Belanda sehingga terjadilah perang itu.
Pertemuan itu untuk menjelaskan tentang rezim pemerintahan yang baru.
Hanya saja para Kabose dari Napu dan Pebato menolak untuk hadir.
Baca juga: Benteng Fafontofure, Jejak Perlawanan Kerajaan Bungku Terhadap Kolonial Belanda di Morowali
Belanda melakukan upaya tangkap paksa terhadap warga Lore, termasuk tokoh masyarakat bernama Umana Soli.
Upaya belanda itu mendapat perlawanan warga Lore hingga menimbulkan korban 60 orang Napu tewas.
Peristiwa ini disebut Perang Peore.
Perang tersebut menewaskan Makada Abu dan Ama (Umana Soli).
Sedangkan Tado Abu (Umana Lolo) ditawan dan diasingkan ke Manado.
Umana Hulinga, Panglima Kerajaan Lore yang juga ikut serta dalam perang itu akhirnya menyerah atas perintah Ratu Polite.
Kekuasaan Kolonial
Belanda, yang sejak abad ke-17 menancapkan kekuasaan perdagangan dan politik mereka di pulau Sulawesi melalui Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC).
Belanda mengacuhkan wilayah dataran tinggi Sulawesi Tengah karena sulit dicapai dan hanya memiliki sedikit lahan yang produktif.
Bagaimana pun, keadaan ini hanya berlangsung selama dua abad.
Perluasan wilayah Kerajaan Bone di seputaran Teluk Tomini menarik perhatian pemerintah kolonial.
Naiknya aktivitas perdagangan kopra dan hasil hutan oleh pedagang Tionghoa dan Muslim, serta meningkatnya intensitas perdagangan ilegal dan pembajakan adalah faktor lain yang memicu keterlibatan Belanda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Ilustrasi-Perang.jpg)