Jumat, 5 Juni 2026

HUT RI 2023

Perang Peore, Sejarah Perlawanan Rakyat Poso Terhadap Kolonial Belanda

Kerajaan-kerajaan di Bumi Tadulako menolak tunduk terhadap pemerintahan Belanda sehingga terjadilah perang itu.

Tayang:
Editor: mahyuddin
handover
Ilustrasi Perang 

Peristiwa khusus yang lain terjadi, memaksa pemerintah kolonial untuk ikut campur lebih dalam dengan suku-suku di pedalaman Sulawesi Tengah.

Baca juga: Sejarah Batu Raja Tomini, Situs Kerajaan yang Pernah Disakralkan Warga Parigi Moutong

Pada tahun 1890, sebuah kapal uap Singapura berbendera Inggris muncul di Teluk Tomini, tanpa meminta izin di Gorontalo yang merupakan pusat Asisten Residen Belanda.

Kapal bernama Glangy ini berlayar menuju Poso dan mengirimkan dua orang penyelidik Australia, yang berhasil menembus pedalaman hingga di daerah pertemuan Sungai Poso dengan Tomasa untuk melakukan riset tentang keberadaan emas.

Rumor yang beredar saat itu menyebutkan bahwa Inggris telah menjalin hubungan persekutuan dengan kerajaan-kerajaan lokal agar dapat bebas dari kontrol Belanda.

Untuk mengantisipasi langkah Inggris, pemerintah kolonial menawarkan kontrak politik dengan empat kepala suku dari Pamona: Garoeda, Oele, Boenga Sawa dan Bengka.

Pada bulan September 1894, Belanda mengangkat kontrolir pertama di Poso, Eduard van Duyvenbode Varkevisser.

Keberadaan pemerintahan Belanda di mulut sungai Poso ini masih belum diketahui di wilayah pedalaman Poso pada saat itu.

Baca juga: Tari Luminda di Morowali Bukti Keeratan Hubungan Kerajaan Bungku dan Buton, Cek Sejarahnya

Ketertarikan Belanda atas wilayah Sulawesi Tengah, utamanya Poso, baru diwujudkan menjelang akhir abad ke-19.

Setelah berdiskusi dengan Raja Sigi, Belanda memutuskan untuk mendaratkan seorang misionaris muda bernama Albertus Christiaan Kruyt di Mapane pada tahun 1892.

Hingga awal tahun 1905, Kruyt dan Adriani terus menerus melakukan ekspedisi pemetaan wilayah Poso, terutama kekuatan potensial pasukannya, sebagai data awal yang kemudian digunakan pihak Belanda untuk menundukkan Poso.(*)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved