Sabtu, 2 Mei 2026

Sigi Hari Ini

Ina Tobani dan Delti Tak Lelah Lestarikan Kain dari Kulit Kayu di Kulawi Sigi

Salah satu daya tarik utama dalam festival ini adalah proses pembuatan kain kulit kayu, sebuah keterampilan yang telah ada sejak ratusan tahun lalu.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Regina Goldie
ANGELINA/TRIBUNPALU.COM
Ina Tobani (84) dan Delti (73) dalam Festival Kulawi. 

Baca juga: HUT TribunPalu.com ke-4 Tahun, Kadis Pusaka Kota Palu Harap Berikan Informasi Menarik dan Otentik

Proses pembuatan kain kulit kayu ini melibatkan beberapa tahap yang memerlukan keterampilan tinggi dan waktu yang cukup lama. 

Setelah kulit kayu dipilih, langkah pertama adalah memukul-mukulnya dengan palu khusus yang disebut Ike, yang terbuat dari batu pilihan. 

Palu Ike ini sudah digunakan sejak zaman dahulu dan hingga kini masih dipakai dengan baik oleh Ina dan Delti. 

Proses memukul kulit kayu menggunakan palu Ike ini bertujuan untuk menghaluskan permukaan kulit kayu sehingga menjadi kain yang cukup lembut untuk dijadikan bahan pakaian.

Batu yang disebut Ike merupakan alat yang terbuat dari batu khusus yang digunakan untuk memodifikasi pola pada kain kulit kayu. 

Ada berbagai bentuk Ike, mulai dari diagonal hingga pola garis besar. Proses ini sudah diwariskan turun-temurun dari nenek moyang mereka dan kini masih dilestarikan oleh Ina dan Delti, meski jumlah pengrajin kain kulit kayu di Kulawi semakin berkurang.

“Proses pembuatan kain kulit kayu ini sangat panjang, dimulai dari memukul-mukul kulit kayu hingga membentuk pola yang diinginkan. Prosesnya bisa memakan waktu hingga satu minggu,” jelas Ina. 

Baca juga: HUT TribunPalu.com ke-4 Tahun, Kepala Balai POM Palu Harap Berikan Informasi Terpercaya

“Dulu, banyak yang bisa membuat kain kulit kayu, tapi sekarang hanya beberapa orang yang masih mempraktikkannya. Saya dan Delti berusaha untuk terus mempertahankan tradisi ini, meskipun tantangan besar untuk mengajarkan generasi muda," tambahnya. 

Ina Tobani, yang telah berusia 84 tahun belajar membuat kain kulit kayu sejak tahun 1957.

Bagi Ina, tradisi ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi bagian dari kehidupan dan warisan keluarga yang harus diteruskan. 

“Saya belajar dari ibu saya, hingga kini saya masih aktif membuat kain kulit kayu,” tutur Ina dengan bangga.

Pembuatan pakaian dari kain kulit kayu ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang luar biasa.

Setelah kain selesai dibuat, langkah berikutnya adalah pengawetan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved