Senin, 13 April 2026

Sigi Hari Ini

Ina Tobani dan Delti Tak Lelah Lestarikan Kain dari Kulit Kayu di Kulawi Sigi

Salah satu daya tarik utama dalam festival ini adalah proses pembuatan kain kulit kayu, sebuah keterampilan yang telah ada sejak ratusan tahun lalu.

|
Editor: Regina Goldie
ANGELINA/TRIBUNPALU.COM
Ina Tobani (84) dan Delti (73) dalam Festival Kulawi. 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Angelina

TRIBUNPALU.COM, SIGI – Di tengah meriahnya Festival Kulawi 2025 yang berlangsung pada 11-12 Januari 2024 di Desa Bolapapu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, ada satu keindahan tradisional yang memikat perhatian banyak pengunjung.

Festival yang mengusung tema Mojagai Katuwua ini bertujuan untuk memperkenalkan beragam kebudayaan lokal yang kaya, sekaligus menjadi wadah untuk melestarikan tradisi yang semakin tergerus oleh perkembangan zaman.

Salah satu daya tarik utama dalam festival ini adalah proses pembuatan kain kulit kayu, sebuah keterampilan yang telah ada sejak ratusan tahun lalu dan kini semakin langka.

Di antara riuhnya pertunjukan tarian tradisional dan musik lokal, dua wanita paruh baya muncul sebagai penjaga warisan budaya Kulawi yang patut dihargai. 

Mereka, Ina Tobani (84) dan Delti (73), dengan sabar memukul-mukul lembaran kulit kayu menggunakan palu tradisional di stan dekat pintu masuk festival. 

Baca juga: Festival Kulawi 2025 Resmi Dibuka, Angkat Tema Mojagai Katuwua untuk Lestarikan Budaya Lokal

Apa yang mereka lakukan bukan hanya pekerjaan, melainkan bentuk dedikasi terhadap kelestarian sebuah kerajinan yang kini mulai terlupakan oleh generasi muda.

Ketika kami mendekat dan menyapa, keduanya menyambut kami dengan senyum ramah. “Nenek, sedang apa?” tanya kami, penasaran dengan aktivitas yang mereka lakukan. 

Ina dan Delti harus melalui proses panjang dalam pembuatan kain tradisional berbahan kulit kayu. 

Proses panjang ini dimulai dengan memukul lembaran kulit kayu yang diambil dari pohon beringin atau yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai “Nunu Lero”. 

Kain kulit kayu ini digunakan untuk membuat pakaian adat Kulawi, sebuah pakaian yang tak hanya melambangkan identitas budaya, tetapi juga menjadi cendera mata yang banyak dicari wisatawan yang datang ke desa Mataue.

Di balik kesederhanaannya, proses pembuatan kain kulit kayu ini sangatlah rumit dan memerlukan ketelitian. 

Kain kulit kayu tersebut dibuat dari kulit pohon beringin yang sudah dipilih dengan cermat. 

“Selain pohon beringin, tidak ada pohon lain yang bisa digunakan untuk membuat kain seperti ini. Hanya pohon beringin yang memiliki tekstur dan kekuatan yang dibutuhkan untuk membuat kain tradisional yang awet,” ujar Ina Tobani, yang telah mengenal tradisi ini sejak muda.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved