Sigi Hari Ini
Ina Tobani dan Delti Tak Lelah Lestarikan Kain dari Kulit Kayu di Kulawi Sigi
Salah satu daya tarik utama dalam festival ini adalah proses pembuatan kain kulit kayu, sebuah keterampilan yang telah ada sejak ratusan tahun lalu.
Laporan Wartawan TribunPalu.com, Angelina
TRIBUNPALU.COM, SIGI – Di tengah meriahnya Festival Kulawi 2025 yang berlangsung pada 11-12 Januari 2024 di Desa Bolapapu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, ada satu keindahan tradisional yang memikat perhatian banyak pengunjung.
Festival yang mengusung tema Mojagai Katuwua ini bertujuan untuk memperkenalkan beragam kebudayaan lokal yang kaya, sekaligus menjadi wadah untuk melestarikan tradisi yang semakin tergerus oleh perkembangan zaman.
Salah satu daya tarik utama dalam festival ini adalah proses pembuatan kain kulit kayu, sebuah keterampilan yang telah ada sejak ratusan tahun lalu dan kini semakin langka.
Di antara riuhnya pertunjukan tarian tradisional dan musik lokal, dua wanita paruh baya muncul sebagai penjaga warisan budaya Kulawi yang patut dihargai.
Mereka, Ina Tobani (84) dan Delti (73), dengan sabar memukul-mukul lembaran kulit kayu menggunakan palu tradisional di stan dekat pintu masuk festival.
Baca juga: Festival Kulawi 2025 Resmi Dibuka, Angkat Tema Mojagai Katuwua untuk Lestarikan Budaya Lokal
Apa yang mereka lakukan bukan hanya pekerjaan, melainkan bentuk dedikasi terhadap kelestarian sebuah kerajinan yang kini mulai terlupakan oleh generasi muda.
Ketika kami mendekat dan menyapa, keduanya menyambut kami dengan senyum ramah. “Nenek, sedang apa?” tanya kami, penasaran dengan aktivitas yang mereka lakukan.
Ina dan Delti harus melalui proses panjang dalam pembuatan kain tradisional berbahan kulit kayu.
Proses panjang ini dimulai dengan memukul lembaran kulit kayu yang diambil dari pohon beringin atau yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai “Nunu Lero”.
Kain kulit kayu ini digunakan untuk membuat pakaian adat Kulawi, sebuah pakaian yang tak hanya melambangkan identitas budaya, tetapi juga menjadi cendera mata yang banyak dicari wisatawan yang datang ke desa Mataue.
Di balik kesederhanaannya, proses pembuatan kain kulit kayu ini sangatlah rumit dan memerlukan ketelitian.
Kain kulit kayu tersebut dibuat dari kulit pohon beringin yang sudah dipilih dengan cermat.
“Selain pohon beringin, tidak ada pohon lain yang bisa digunakan untuk membuat kain seperti ini. Hanya pohon beringin yang memiliki tekstur dan kekuatan yang dibutuhkan untuk membuat kain tradisional yang awet,” ujar Ina Tobani, yang telah mengenal tradisi ini sejak muda.
| Ketua DPRD Sigi Komitmen Kawal Pembangunan Marawola Saat Hadiri Halal Bihalal Warga |
|
|---|
| Halal Bihalal Ketupat di BTN Tinggede Permai Sigi, Warga Lintas Agama Jaga Kebersamaan dan Toleransi |
|
|---|
| Program Sejuta Rumah Masuk Desa Binangga Sigi, Infrastruktur dan UMKM Jadi Sasaran |
|
|---|
| Bupati Sigi Dukung Liga 4, Persigi Tahan Imbang di Laga Perdana |
|
|---|
| Bupati Sigi Haturkan Terima Kasih pada Pejabat dan Masyarakat Ziarah ke Rumah Duka Sang Adik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/uf890saud90-uas90d-uas90uds9adsa.jpg)