Kamis, 7 Mei 2026

Palu Hari Ini

Begini Awal Mula Naladiri, Platform Sharing Kesehatan Mental Dibuat Remaja Asal Banggai

Akibat tekanan sosial itu, Rafa mengaku tumbuh dalam ketakutan, sering menyalahkan diri sendiri, bahkan dipaksa mengikuti kegiatan yang tak disukai. 

Tayang:
Penulis: Robit Silmi | Editor: Fadhila Amalia
Tangkapan Layar Youtube TribunPalu.com
KESEHATAN MENTAL- Bermula dari pengalaman pribadi yang penuh tekanan dan perundungan sejak kecil, Rafa Al Fayed, seorang remaja asal Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, mendirikan Naladiri, sebuah platform daring yang menjadi ruang berbagi cerita soal kesehatan mental dan isu anti-bullying di kalangan remaja. 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Robit Silmi

TRIBUNPALU.COM, PALU – Bermula dari pengalaman pribadi yang penuh tekanan dan perundungan sejak kecil, Rafa Al Fayed, seorang remaja asal Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, mendirikan Naladiri, sebuah platform daring yang menjadi ruang berbagi cerita soal kesehatan mental dan isu anti-bullying di kalangan remaja.

Platform ini lahir bukan sekadar dari ide, tapi dari luka yang mendalam.

Baca juga: Harga HP Infinix 2025: Infinix Note 50, Infinix Smart 9 HD, Infinix GT 20 Pro, Infinix Zero 30 5G

"Ketika aku dari TK sampai SD, aku tuh nggak bisa main bola. Terus orang-orang berpikir bahwa aku lemah karena seorang laki-laki tinggal di daerah kecil tapi nggak bisa main bola, nggak bisa olahraga. Menurut mereka itu bukan laki-laki sejati," kata Rafa kepada TribunPalu.com, Rabu (28/5/2025).

Kemudian Rafa melanjutkan sekolah SMP dan SMA di daerah Bogor, pada saat itulah Rafa membuat Naladiri.

Perlu dikethui, saat membuat "Naladiri" Rafa menjabat sebagai Ketua OSIS.

Lebih lanjut, Akibat tekanan sosial itu, Rafa mengaku tumbuh dalam ketakutan, sering menyalahkan diri sendiri, bahkan dipaksa mengikuti kegiatan yang tak disukai. 

Namun, dari titik itulah ia mulai menyadari pentingnya kesehatan mental.

"Sampai akhirnya aku sadar oh, ini namanya bullying, ini namanya kesehatan mental. Aku pikir, aku perlu mengedukasi orang-orang atau sebatas sharing tentang pentingnya kesehatan mental," ujarnya.

Awalnya logo Naladiri berwarna hijau, namun kini berubah menjadi warna biru yang memiliki arti air yang mengalir.

Baca juga: Kode Redeem ML Mobile Legends Terbaru Kamis 29 Mei 2025, Buruan Klaim Semua Item Gratis di Sini

Lewat Naladiri, remaja dapat bercerita secara anonim melalui platform daring. 

Beberapa ingin mendapat respons, sementara lainnya hanya ingin didengar. 

Rafa mengungkapkan bahwa mereka masih beroperasi secara online karena keterbatasan fasilitas, namun berharap suatu hari bisa membuka sesi tatap muka.

Dari banyaknya cerita yang masuk, sebagian besar berkaitan dengan trauma akibat kehilangan sosok ayah baik karena perceraian, kekerasan, maupun ketidakhadiran secara emosional.

Baca juga: Ini 30 Caption Hari Kenaikan Yesus Kristus 2025

"Anak-anak itu merekam semuanya sejak kecil. Tangisan, pertengkaran, semuanya terekam jelas. Ketika mereka sendiri, luka itu muncul. Banyak orang mikir anak kecil nggak tahu apa-apa, padahal mereka menyimpan semuanya," ucap Rafa.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved