Selasa, 12 Mei 2026

Nama Jokowi Kembali Mencuat, Kali Ini Dijagokan Pimpin PPP

Nama Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) kembali mencuat sebagai kandidat pemimpin partai politik.

Tayang:
Editor: Lisna Ali
Tribun Solo
DIGADANG PIMPIN PPP - Presiden ke-7 RI Joko Widodo saat ditemui di kediamannya, Sumber, Banjarsari, Solo, Jumat (7/2/2025). JSetelah membuka peluang ikut pemilihan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), kini Jokowi yang memimpin Indonesia dua periode dijagokan sebagai Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). 

"Yang saya tahu katanya mau pakai e-voting, one man one vote. Seluruh anggota diberi hak untuk memilih. Yang sulit di situ," tegasnya.

Jokowi Masih Berambisi

Pengamat politik sekaligus Direktur Lingkar Madani (LIMA), Ray Rangkuti menilai Jokowi masih memiliki ambisi untuk berkuasa setelah dia membuka peluang untuk ikut dalam pemilihan Ketua Umum PSI.

Ray menyebut cara berpolitik seperti yang dilakukan Jokowi tersebut adalah 'politik negarawan'.

"Pertanyaannya mengapa memilih politik harian? Ya, harus diakui politik harian itu ya tujuannya berkuasa. Buat apa kalau nggak berkuasa? Jadinya, politik negarawan kan," kata Ray dikutip dari YouTube iNews, Jumat (16/5/2025).

Ray mengakui bahwa Jokowi yang membuka peluang ikut berkontestasi dalam pemilihan Ketua Umum PSI bukan untuk kepentingan dirinya semata.

Namun, kata Ray, hal tersebut dilakukan agar Jokowi bisa berkuasa secara politik melalui keluarganya.

Saat ini ada tiga anggota keluarga Jokowi yang berkecimpung di dunia politi, antara lain putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, yang kini menjadi Wakil Presiden RI.

Lalu, ada menantunya yakni Bobby Nasution yang kini menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara (Sumut). Serta, putra bungsunya yakni Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum PSI saat ini.

"Dengan ada partai, itu bisa di-setting semua itu. Untuk kepentingan politik itu semua," kata Ray.

"Kalau Anda mau menjadi ketua partai dan sekaligus menjadi negarawan, itu dalam tradisi Indonesia tidak terlalu dikenal tuh. Kalau mau ingin rebutan jadi ketua partai karena dia ingin berkuasa," jelas Ray.

Ray mengatakan, jika Jokowi masih memiliki ambisi untuk berkuasa tapi tidak memiliki partai, maka tujuannya tidak akan tercapai.

Selain itu, tambah Ray Rangkuti, dalam Pemilu 2029 mendatang, negosiasi seperti berkoalisi dengan partai lain juga akan sulit dilakukan jika Jokowi ingin mencalonkan keluarganya tanpa partai.

"Kalau Pak Jokowi nyeting ini, nyeting itu, basisnya nggak kelihatan. Yang kedua, di pasar pemilu, negosiasinya akan lemah karena orang melihatnya kehilangan relevansi," jelas Ray.(*)

(Kompas.com/Nawir Arsyad Akbar)
(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved