OPINI
IMIP: Nyala Hilirisasi dari Timur Indonesia
Aktivitas industri berat yang dulu hanya kita bayangkan di Jawa atau luar negeri, kini berdiri megah di Kabupaten Morowali.
Andika
Sekwil DPW Gema Bangsa Sulteng
TRIBUNPALU.COM - Di masa lalu, Indonesia Timur sering dianggap pinggiran — jauh dari pusat kekuasaan, apalagi pusat industri.
Tapi hari ini, dari tepian pesisir Sulawesi Tengah, muncul satu cahaya yang mulai membalikkan narasi itu: Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Di kawasan inilah, hilirisasi yang selama ini sering jadi jargon, benar-benar diwujudkan.
Nikel, feronikel, stainless steel, krom, hingga material baterai diproses dan dikembangkan di tempat yang sama.
Aktivitas industri berat yang dulu hanya kita bayangkan di Jawa atau luar negeri, kini berdiri megah di Kabupaten Morowali.
Ini bukan hanya kemajuan fisik, tapi sebuah transformasi geoproduktif.
IMIP tidak berdiri di ruang hampa. Keberadaannya secara langsung mengangkat perekonomian Sulawesi Tengah dari pertumbuhan PDRB, penyerapan tenaga kerja, hingga geliat UMKM dan jasa.
Baca juga: Peredaran Uang di Sekitar Kawasan IMIP Capai Rp338 Miliar Sebulan
Sebagaimana dijelaskan oleh Paul Krugman dalam teori Ekonomi Geografi Baru, konsentrasi industri menciptakan daya tarik tersendiri: ketika produksi terkonsentrasi di satu wilayah, maka akan tercipta efek aglomerasi.
Mulai dari infrastruktur, tenaga kerja terampil, hingga peningkatan konsumsi lokal. Itulah yang kini terjadi di Morowali.
Namun keistimewaan IMIP tak hanya karena skalanya besar atau jumlah tenaga kerjanya yang melimpah.
Yang menjadikannya istimewa adalah posisinya dalam rantai nilai global yang semakin modular dan terfragmentasi.
Dalam teori defragmentasi manufaktur global, industri tidak lagi diproduksi dalam satu tempat dari hulu ke hilir.
Sebaliknya, dunia kini bergerak menuju produksi modular, satu komponen dibuat di satu negara, diolah lanjut di negara lain, dan dirakit di tempat berbeda.
| Fungsi Pelabuhan Pantoloan dan Arah Pembangunan Daerah |
|
|---|
| Pilkada dan Larangan Mereduksi Demokrasi |
|
|---|
| OPINI: Hari Ibu Nasional: Parenting Bukan Sekadar Naluri, tapi Tanggung Jawab Bersama |
|
|---|
| Rasa UMK Bagi Guru Honorer |
|
|---|
| Bomba Saga: Menjahit Identitas yang Tercecer, Meletakkan Batu Bata Peradaban di Parigi Moutong |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Sekwil-DPW-Gema-Bangsa-Sulteng-Andika.jpg)