OPINI
Zakat Fitrah Menjadi Ritual Pengembalian Manusia pada Fitrahnya
Zakat Fitrah itu bukan sekadar bantuan sosial. Ia adalah ritual penyucian diri setelah sebulan penuh menjalani Puasa Ramadan.
Ia justru dirancang sebagai bantuan konsumsi langsung, yang tujuannya agar setiap orang yang tidak mampu dapat merayakan Idulfitri.
Karena itu, Zakat Fitrah memiliki dimensi simbolik yang kuat, yang memastikan bahwa pada hari kemenangan atau idul Fitri, tidak ada seorang pun yang sedih dan menderita, lantaran dapurnya tidak mengepul
Saat hari Idulfitri tiba, masjid-masjid penuh oleh takbir yang menggema.
Namun kemenangan yang sesungguhnya tidak hanya terjadi di sajadah. Ia juga terjadi di dapur-dapur kecil seperti milik Rahma.
Di sana, nasi yang dimasak dari Zakat Fitrah menjadi simbol bahwa spiritualitas tidak berhenti pada doa.
Ia menjelma menjadi roti, menjadi nasi, menjadi kehidupan.
Dan...
Pada akhirnya, zakat fitrah mengajarkan satu hal sederhana pun radikal, bahwa kesucian manusia tidak hanya diukur pada seberapa lama ia beribadah.
Pun juga diukur dari seberapa ringan tangannya memberi.
Karena di hadapan Tuhan, mungkin yang paling suci bukanlah yang paling banyak memiliki, melainkan mereka yang paling mampu melepaskan. Iya gak ? Weleh, weleh, weleh.(*)
| Kemewahan di Tengah Krisis: Ujian Etika Kekuasaan dan Kepekaan Sosial |
|
|---|
| Belajar dari Kaltim: Ketika Anggaran Diuji Empati Publik |
|
|---|
| Ketika Sertifikat Menjadi Senjata Pelumpuh Hak Rakyat di Bumi Tadulako |
|
|---|
| Semiotika Pesan Komunikasi Politik JK: Termul Jual, JK Beli |
|
|---|
| Melawan Reduksi Kebenaran di Ruang Siber: Sikap Rektor UMI dalam Menjaga Marwah Negarawan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Opini-Atank-Lasawedy-2026.jpg)