Sabtu, 9 Mei 2026

OPINI

Zakat Fitrah Menjadi Ritual Pengembalian Manusia pada Fitrahnya

Zakat Fitrah itu bukan sekadar bantuan sosial. Ia adalah ritual penyucian diri setelah sebulan penuh menjalani Puasa Ramadan.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: mahyuddin
Handover
OPINI - Aslamuddin Lasawedy, Pemerhati masalah Ekonomi, Budaya dan Politik. Penuli Opini berjudul Zakat Fitrah Menjadi Ritual Mengembalikan Manusia pada Fitrahnya 

Aslamuddin Lasawedy
Pemerhati masalah Ekonomi, Budaya dan Politik

TRIBUNPALU.COM - Menjelang malam takbiran, di sebuah gang sempit di pinggiran kali Ciliwung, Jakarta Selatan, seorang ibu bernama Rahma duduk di depan rumah reotnya. 

Di tangannya ada Zakat Fitrah dari tetangganya berupa tiga setengah liter kantong beras. "Alhamdullilah,"  kata Rahma, gembira.

Malam itu dapurnya kembali menyala. “Kalau tidak ada zakat fitrah, mungkin malam ini kami hanya minum air saja” katanya, seraya tersenyum bahagia.

Kisah Rahma bukanlah kisah yang langka. Di banyak tempat, zakat fitrah menjadi jembatan antara kelaparan dan harapan.

Ia tidak datang dalam bentuk pidato yang muluk-muluk atau berbentuk kebijakan negara.

Ia datang justru dalam bentuk yang sangat sederhana berupa segenggam makanan pokok yang berpindah dari tangan yang berkecukupan ke tangan yang membutuhkan.

Baca juga: Kapan Batas Waktu Pembayaran Zakat Fitrah 1447H? Ini Besaran Zakat Beras dan Uang di Tahun 2026 

Di balik kesederhanaan berzakat fitrah itu, tersembunyi makna yang sangat dalam.

Bahwa Zakat Fitrah itu bukan sekadar bantuan sosial. Ia adalah ritual penyucian diri setelah sebulan penuh menjalani Puasa Ramadan.

Banyak ulama menyebutnya sebagai pembersih bagi kekurangan-kekurangan manusia selama berpuasa.

Sebut saja kesalahan kecil, kata-kata yang tak terjaga, atau niat yang tidak sepenuhnya ikhlas, dan seterusnya.

Memang Zakat Fitrah itu bekerja seperti air yang membasuh debu perjalanan spiritual seseorang.

Selama Ramadan seseorang belajar menahan haus dan lapar.

Dan di ujung perjalanan Ramadhan, diajarkan sesuatu yang sangat bermakna, yaitu melepaskan kepemilikan.

Nah, memberi Zakat Fitrah berarti mengakui bahwa rezeki yang berada di tangan ini bukan sepenuhnya milik kita.

Ia hanya titipan yang harus dialirkan ke mereka yang membutuhkan.

Fenomena ini bukan hanya pengalaman personal.

Di komunitas Muslim, Zakat Fitrah menjadi mekanisme solidaritas sosial yang sangat mengakar kuat.

Di banyak desa di Indonesia, malam-malam terakhir Ramadan sering dipenuhi aktivitas pengumpulan beras di masjid.

Anak-anak muda membantu menimbang beras, para ibu mengemasnya, sementara para amil mendata keluarga yang berhak menerimanya.

Praktik sederhana ini menciptakan jaringan kepedulian sosial yang begitu hangat.

Sebuah penelitian tentang zakat di Indonesia menunjukkan bahwa zakat tidak hanya membantu mengurangi angka kemiskinan.

Pun juga memperkuat solidaritas sosial dan nilai religius dalam masyarakat.

Zakat berfungsi sebagai modal sosial yang mempererat hubungan kemanusiaan antara pemberi dan penerima.  

Dengan kata lain, Zakat Fitrah bukan sekadar distribusi makanan. Ia adalah distribusi empati.

Baca juga: Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri dan Keluarga Lengkap dengan Artinya

Dalam perspektif ekonomi Islam, zakat juga memiliki fungsi redistribusi kekayaan.

Sistem ini mencegah penumpukan harta hanya pada orang atau kelompok tertentu dan membantu menjaga keseimbangan sosial.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa zakat dan filantropi syariah Islam berkontribusi dalam upaya penanggulangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. 

Nah, Zakat Fitrah ini memiliki karakter yang unik bila dibanding dengan zakat harta.

Zakat Fitrah tidak dirancang sebagai investasi jangka panjang.

Ia justru dirancang sebagai bantuan konsumsi langsung, yang tujuannya agar setiap orang yang tidak mampu dapat merayakan Idulfitri.

Karena itu, Zakat Fitrah memiliki dimensi simbolik yang kuat, yang memastikan bahwa pada hari kemenangan atau idul Fitri, tidak ada seorang pun yang sedih dan menderita, lantaran dapurnya tidak mengepul

Saat hari Idulfitri tiba, masjid-masjid penuh oleh takbir yang menggema.

Namun kemenangan yang sesungguhnya tidak hanya terjadi di sajadah. Ia juga terjadi di dapur-dapur kecil seperti milik Rahma.

Di sana, nasi yang dimasak dari Zakat Fitrah menjadi simbol bahwa spiritualitas tidak berhenti pada doa.

Ia menjelma menjadi roti, menjadi nasi, menjadi kehidupan.

Dan...

Pada akhirnya, zakat fitrah mengajarkan satu hal sederhana pun radikal, bahwa kesucian manusia tidak hanya diukur pada seberapa lama ia beribadah.

Pun juga diukur dari seberapa ringan tangannya memberi.

Karena di hadapan Tuhan, mungkin yang paling suci bukanlah yang paling banyak memiliki, melainkan mereka yang paling mampu melepaskan. Iya gak ? Weleh, weleh, weleh.(*)

Sumber: Tribun Palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved