OPINI
Ketika Hutan Pergi, Bencana Datang
Ketika sistem ekonomi mengutamakan pertumbuhan dan keuntungan jangka pendek, maka nilai lingkungan dan keberlanjutan sering terpinggirkan.
Regulasi yang longgar, pengawasan yang lemah, dan prioritas terhadap eksploitasi ekonomi membuat kolusi
antara penguasa dan pengusaha menjadi mungkin yang akhirnya merugikan rakyat banyak.
Logikanya sederhana, ketika sistem ekonomi mengutamakan pertumbuhan dan keuntungan jangka pendek, maka nilai lingkungan dan keberlanjutan sering terpinggirkan.
Akibatnya, ketika hujan ekstrem datang melalui siklon atau perubahan iklim, hal itu bisa menjadi pemicu bencana masif, bukan hanya bencana lokal kecil.
Bencana di Sumatra ini menjadi bukti bahwa kerusakan alam bukan sekadar sampingan dalam Pembangunan, melainkan dampak sistemik dari model pembangunan yang ekstraktif, permisif, dan seringkali mengeksploitasi kekayaan alam tanpa memperhatikan keberlanjutan atau keselamatan masyarakat.
Islam Menjaga Amanah Melestarikan Alam
Dalam kerangka keimanan Islam, manusia tidak diperkenankan merusak bumi.
Sebaliknya, amanah untuk merawat, memelihara, dan menggunakan alam secara adil dan bijak sangat ditekankan.
Alam bukan komoditas yang bisa dieksploitasi seenaknya demi keuntungan materi, melainkan bagian dari ciptaan Allah yang harus dijaga.
Bencana di Sumatra menunjukkan apa yang terjadi ketika manusia melupakan amanah ini.
Hutan yang dibabat, sungai dan DAS yang diubah fungsi, tanah yang kehilangan daya dukung, semua ini adalah bentuk kerusakan ekologis akibat ambisi ekonomi dan kebijakan manusia.
Kalau sebuah negara berdasarkan syariat Islam dengan prinsip keadilan, amanah, dan tanggung jawab, mungkin tata kelola alam akan berbeda.
Hutan bisa dipertahankan, izin konsesi tidak sembarangan diberikan, dan kebutuhan manusia diseimbangkan dengan kelestarian lingkungan.
Negara akan mengedepankan maslahat (kebaikan) dan mencegah dharar (bahaya) terhadap umat, bukan membiarkan kerusakan demi keuntungan segelintir orang.
Dalam sistem seperti itu, tata ruang dirancang dengan mempertimbangkan fungsi ekologis, manusia tidak dieksploitasi, dan alam dihormati sebagai amanah.
Regulasi manusia, walau dibuat dengan niat baik, sering kali dipengaruhi kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan.
| Eliminasi Schistosomiasis, Saatnya Sulteng Beralih dari Pengendalian Menuju Pemutusan Transmisi |
|
|---|
| Frekuensi Versus Algoritma, Siapa Pengendali Ruang Publik Hari Ini? |
|
|---|
| Mengulik Hubungan Musik Digital, Media Sosial, dan Kampanye Politik di Era Ekonomi Perhatian |
|
|---|
| Konflik Kepentingan di Balik Rangkap Jabatan |
|
|---|
| Opini: HATAM 2026 Momentum Penyelamatan Ruang Hidup Dari Konsesi Tambang di Sulawesi Tengah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Nur-Indah-Ulfanny.jpg)