Rabu, 17 Juni 2026

OPINI

Ketika Hutan Pergi, Bencana Datang

Ketika sistem ekonomi mengutamakan pertumbuhan dan keuntungan jangka pendek, maka nilai lingkungan dan keberlanjutan sering terpinggirkan.

Tayang:
Editor: Fadhila Amalia
Handover
OPINI - Dalam hitungan hari terakhir, wilayah di pulau Sumatra terutama di provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, diterjang banjir bandang dan longsor dahsyat yang menyebabkan ratusan hingga hampir seribu korban jiwa. 

Izin konsesi bisa diberikan bukan karena pertimbangan ekologis, tetapi karena uang, lobi, dan keuntungan jangka pendek.

Akhirnya, regulasi pun bisa menjadi instrumen kolonisasi alam, bukan penjagaan.

Sistem kapitalis dengan logika pasar dan keuntungan cenderung melihat alam sebagai barang dagangan.

Hutan dijual, lahan dijual, izin diberikan demi profit.

Kerusakan alam dan penderitaan rakyat hanyalah eksternalitas yang kemudian dibayar mahal saat bencana datang.

Sebaliknya, dalam perspektif Islam, di mana alam adalah amanah, umat adalah pemilik manfaat, dan negara adalah penjaga amanah, yakni regulasi dan tata kelola akan berdasarkan nilai keadilan, keseimbangan, dan tanggung jawab moral.

Hukum bersifat adil, bukan tunduk pada kekuasaan atau modal.

Dengan demikian, hanya dengan hukum Islam yang bersumber dari Allah sebagai pedoman moral dan spiritual, manusia dan negara bisa diorientasikan untuk menjaga alam, bukan membinasakannya.

Dan itu bukan sebuah wacana utopis, melainkan panggilan iman untuk mengembalikan tanggung jawab manusia terhadap bumi sebelum bumi itu menuntut pertanggungjawaban dari manusia.

Tragedi di Sumatra bukan sekadar musibah alam, tetapi panggilan refleksi kolektif.

Saat kita memandang alam sebagai ladang profit dan negara menganggap hutan sebagai barang produksi, maka kita sedang mengabaikan amanah dan tanggung jawab.

Bencana ini menegaskan bahwa kerusakan lingkungan bukan konsekuensi sekunder dari Pembangunan, namun bagian tak terpisahkan dari logika kapitalisme ekstraktif.

Dan ketika alam dibajak untuk keuntungan segelintir, maka rakyat kecillah yang menanggung beban
hingga menyebabkan kehilangan rumah, kehilangan nyawa, bahkan kehilangan masa depan.

Dengan kembali pada nilai keadilan, tanggung jawab, dan kemanusiaan seperti yang dituntun oleh syariat Islam, kita bisa belajar bahwa pembangunan sejati bukan soal mengeksploitasialam, melainkan menjaga  amanah, melindungi mahluk, dan memastikan bumi tetap lestari bagi generasi mendatang.

Semoga tragedi ini menjadi titik balik bagi bangsa, negara, dan umat untuk mendudukkan ulang hubungan manusia dengan alam, dengan moral dan tanggung jawab.

Dan semoga korban mendapatkan tempat terbaik di dalam Jannah, serta keluarga yang ditinggalkan diberi
kesabaran dan penghiburan.(*)

Sumber: Tribun Palu
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
3 - 1
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
1 - 4
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
3 - 0
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
3 - 1
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved