Sabtu, 25 April 2026

Dari Morowali untuk Aceh: Mesin Semprot Lumpur dan Harapan yang Kembali Menyala

Kini, di rumah-rumah warga dan lingkungan pondok pesantren yang perlahan dibersihkan, suara mesin semprot berpadu dengan doa.

Editor: mahyuddin
Handover/Hengjaya Mineralindo
HENGJAYA MINERALINDO - Pimpinan Pondok Pesantren Rayatul Quran, Ustadz Zainuddin, Lc, menerima secara simbolis bantuan dari PT Hengjaya Mineralindo berupa mesin pembersih, peralatan kebersihan, serta bantuan pangan untuk mendukung pemulihan pondok dan masyarakat setempat pascabanjir di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. 

Ia pun menyampaikan doa tulus bagi para donatur dan pihak yang telah membantu.

“Kami mendoakan semoga Allah SWT membalas seluruh kebaikan para donatur dengan pahala terbaik di sisi-Nya,” ucapnya.

Baca juga: Hengjaya Mineralindo Tunjukkan Integritas Praktik Pertambangan Berkelanjutan dan Restorasi Ekosistem

Tak hanya di satu titik, bantuan dari PT Hengjaya Mineralindo telah disalurkan ke delapan lokasi posko pengungsian yang tersebar di Kabupaten Pidie Jaya dan Aceh Utara, berdasarkan pendataan kebutuhan mendesak di lapangan.

Mulyadi, perwakilan PT Hengjaya Mineralindo yang ditugaskan mendistribusikan bantuan, menjelaskan bahwa sejak awal perusahaan menekankan pentingnya ketepatan sasaran.

“Kami diminta perusahaan untuk mendata posko-posko pengungsi dan kebutuhan yang paling mendesak. Karena itu kami merekomendasikan alat pembersih rumah dan bahan pangan, juga obat-obatan, perlengkapan ibadah seperti mukena, sajadah, dan sarung, serta kebutuhan lainnya seperti pembalut wanita,” jelas Mulyadi.

Sebelumnya, komitmen bantuan ini telah disampaikan secara resmi di tingkat provinsi.

PT Hengjaya Mineralindo bersama Nickel Industries Limited menyerahkan bantuan kemanusiaan kepada Pemerintah Aceh yang diterima langsung oleh Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah di Banda Aceh

Bantuan tersebut diserahkan oleh Komisaris PT Hengjaya Mineralindo, Muhammad Resqy Faisal, didampingi Chief Finance Officer (CFO) Vijayan G Nair.

Kini, di rumah-rumah warga dan lingkungan pondok pesantren yang perlahan dibersihkan, suara mesin semprot berpadu dengan doa.

Lumpur memang meninggalkan luka, namun dari kepedulian yang datang dari jauh, harapan kembali tumbuh—agar kehidupan pulih, dan lantunan ayat-ayat Al-Quran kembali menggema di Aceh.(*)

Sumber: Tribun Palu
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved