OPINI
Lebih dari Sekadar Kenyang: Makan Bergizi Gratis dan Perubahan Perilaku Anak
Perdebatan publik pun tak jauh dari hitung-hitungan biaya, menu, dan siapa yang bertanggung jawab jika makanan terlambat datang.
Makan bersama di sekolah melatih anak untuk antre, berbagi, duduk tertib, dan membersihkan tempat makan.
Aktivitas sederhana ini membentuk perilaku prososial yang selama ini sulit diajarkan hanya lewat nasihat.
Anak-anak juga mulai mengenal rasa kenyang yang wajar, bukan kenyang semu dari jajanan tinggi gula.
Perlahan, mereka belajar bahwa makan bukan sekadar mengisi perut, tetapi bagian dari merawat diri.
Jika dikelola dengan sungguh-sungguh, MBG bukan hanya program gizi, melainkan investasi pembentukan karakter.
Anak yang kenyang dengan gizi seimbang lebih siap belajar, lebih stabil emosinya, dan lebih mudah diarahkan perilakunya.
Pada akhirnya, keberhasilan Makan Bergizi Gratis tidak boleh hanya diukur dari jumlah porsi dibagikan atau besarnya anggaran yang terserap.
Keberhasilan sejatinya terletak pada satu hal sederhana namun mendasar: apakah anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih tenang, lebih peduli, dan lebih siap belajar.
Karena dari perilaku anak hari ini, kita sedang menyiapkan wajah bangsa di masa depan.(*)
| Belajar dari Kaltim: Ketika Anggaran Diuji Empati Publik |
|
|---|
| Ketika Sertifikat Menjadi Senjata Pelumpuh Hak Rakyat di Bumi Tadulako |
|
|---|
| Semiotika Pesan Komunikasi Politik JK: Termul Jual, JK Beli |
|
|---|
| Melawan Reduksi Kebenaran di Ruang Siber: Sikap Rektor UMI dalam Menjaga Marwah Negarawan |
|
|---|
| Catatan dari Tanah Poso dan Morut: Menjaga Soliditas Organisasi Lewat Ruang Dialog |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Program_Makan_Bergizi_Gratis__MBG__telah_dicetuskan_oleh_Presiden_Republik_Indonesia_Prabowo_Subjpg.jpg)