OPINI
Lebih dari Sekadar Kenyang: Makan Bergizi Gratis dan Perubahan Perilaku Anak
Perdebatan publik pun tak jauh dari hitung-hitungan biaya, menu, dan siapa yang bertanggung jawab jika makanan terlambat datang.
Namun, setelah beberapa minggu mendapatkan makan bergizi secara rutin, suasana kelas perlahan berubah.
Anak-anak lebih tenang, jarang menangis tanpa sebab, dan lebih mampu mengikuti aturan kelas.
Perubahan itu tidak terjadi karena ceramah panjang tentang disiplin, tetapi karena kebutuhan
dasar mereka terpenuhi.
Anak belajar mengendalikan diri ketika tubuhnya tidak sedang berjuang melawan rasa lapar.
Dalam psikologi perkembangan, pemenuhan kebutuhan fisiologis merupakan fondasi bagi berkembangnya kontrol emosi dan perilaku sosial.
Tanpa itu, tuntutan disiplin sering kali hanya menjadi tekanan tambahan.
Namun, MBG juga menghadapi tantangan nyata.
Banyak anak yang belum terbiasa dengan menu sehat.
Sayur sering disisihkan, lauk tertentu hanya dicicipi, lalu ditinggalkan.
Setelah makan, sebagian anak masih mencari jajanan manis di luar sekolah.
Ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku makan tidak bisa terjadi secara instan.
Anak meniru sebelum mereka mengerti.
Jika di rumah mereka terbiasa dengan makanan instan dan minuman berpemanis, maka menu sehat di sekolah akan terasa asing.
Di sinilah MBG seharusnya tidak berhenti sebagai program pemberian makanan, tetapi menjadi sarana
edukasi perilaku hidup sehat yang melibatkan guru dan orang tua.
Meski begitu, dampak positifnya tidak bisa diabaikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Program_Makan_Bergizi_Gratis__MBG__telah_dicetuskan_oleh_Presiden_Republik_Indonesia_Prabowo_Subjpg.jpg)